REKSA DANA SYARIAH

REKSADANA SYARIAH

  1. A. PENDAHULUAN

Salah satu instrument investasi yang saat ini dikenal di Indonesia selain Deposito, saham, obligasi atau efek lain adalah Reksa dana. Reksa dana dipahami   sebagai suatu wadah yang dipergunakan untuk menghimpun dana dari masyarakat pemodal yang selanjutnya diinvestasikan dalam bentuk portfolio efek oleh suatu manajer Investasi. Dalam Definisi Bapepam (1997:128) Reksa dana merupakan sekumpulan saham-saham, obligasi atau sekuritas lainnya yang dimiliki oleh kelompok investor dan dikelola oleh perusahaan investasi profesional. Adapun Secara umum Reksadana atau mutual fund, atau unit trust adalah wahana investasi premium yang dapat digunakan oleh masyarakat untuk berinvestasi dalam bentuk portfolio efek yang nantinya tercermin dalam nilai NAB ( Nilai Aktiva Bersih)pada reksa dana terbuka. [1]

Nilai saham Reksa Dana Terbuka[2] ditentukan berdasarkan Nilai Asset Value (Nilai Aktiva Bersih). NAB merupakan nilai total dari portfolio Reksa Dana dibagi dengan jumlah saham yang diterbitkan setelah terlebih dahulu dikurangi dengan biaya manajemen dari Reksa Dana.   Nilai Akiva Bersih atau Net Asset Value merupakan alat ukur kinerja Reksa Dana. Dimana ia adalah harga wajar dari portfolio suatu Reksa Dana (aktiva) dikurangi kewajiban-kewajiban yang ada kemudian dibagi jumlah unit penyertaaan. Aktiva atau portfolio Reksa Dana terdiri dari obligasi, kas,deposito, SBPU,SBI, Surat berharga komersial, saham, right dan efek lainnya. Sedangkan  kewajiban Reksa Dana terdiri dari fee manajer investasi, fee bank kustodian, pajak, fee broker. Besarnya NAB/NAV  Reksa Dana  befluktuatif tiap hari tergantung perubahan nilai efek dari portfolio.  Meningkatnya nilai NAV berarti naiknya nilai investasi pemegang saham/unit penyertaan begitu pula sebaliknya.

Adapun yang dimaksud dengan Management Fee (biaya pengelolaan) adalah  Biaya  yang merupakan bagian dari rata-rata NAV dengan porsi tertentu tergantung jenis Reksa Dana. Biaya pengelolaan paling besar umumnya diterapkan pada Reksa Dana Saham sedangkan biaya terkecil diterapkan pada Reksa Dana Pasar Uang. Semakin besar Dana yang dikelola biasanya akan menurunkan management feeManagement fee meliputi trustee fee, brokers commisions, auditor fees, government tax, independent values, dan cost for modification of trust deed. Management fee Ratio di hitung dengan formulasi: (Iggi, Achsien, 2000,67)

MER= NAV/ME

Dimana :

MER   = Management Expense Ratio

NAV   = Net Asset Value

ME      = Management Expenses

Seiring dengan perkembangan sistim financial Islam, muncul instrumen investasi yaiyu Reksa dana syariah.. Reksa Dana syariah diperkenalkan pertama kali pada tahun 1955 oleh National Commercial Bank di Saudi Arabia dengan nama Global Trade equity dengan kepitalisasi sebesar 150 juta dolar Amerika. Terdapat hampir 45 Reksa Dana Syariah di dunia yang dikelola oleh investment banker dunia seperti Citibank, Deutsche Bank, Robert Flemming  UBS, Solomon Brothers dengan total  kapitalisasi kurang lebih sekitar 800 miliar dolar Amerika Serikat. ( data tahun 2002).

Di Indonesia Reksa dana syariah diterbitkan pada tahun 1997 dua tahun setelah kelahiran undang-undang No 8 tahun 1995 tentang pasar modal yang salah satu babnya menjelaskan tentang Reksa Dana. Walaupun  Reksa Dana muncul pada tahun 1995 akan tetapi media ini mulai aktif berjalan pada tahun 1996.[3] Sedangkan  Reksa dana syariah yang pertama kalinya adalah Reksa dana syariah Danareksa saham pada Juli 1997.

Saat ini di Indonesia terdapat 13 Perusahaan Manajemen Investasi yang mengeluarkan reksa dana syariah. Terdapat 20 jenis reksa dana syariah  dari 398 reksa dana yang ada di Indonesia dengan total  NAB Rp. 933,3 miliar atau hanya 1,5 % dari total NAB Reksa dana yang ada di Indonesia.( data Feberuari 2008).[4]

Sebagai salah satu instrumen investasi, reksa dana syariah memiliki kriteria yang berbeda dengan reksa dana konvensional pada umumnya. Dimana perbedaan ini terletak pada pemilihan instrumen investasi dan mekanisme investasi yang harus berpedoman pada sumber Al-Qur’an dan Hadits serta hukum islam yang lainnya. Reksa dana syariah beroperasi berlandaskan pada fatwa DSN No.20 DSN-MUI/IV/2001 [5]tentang pedoman dan pelaksanaan investasi reksa dana syariah butir 1,2,3 dan Bab Iv tentang pemilihan dan Pelaksanaan Investasi pasal 10.Selain itu dasaran hukum lain adalah Keputusan ketua BAPEPAM dan LK nomor Kep-314 Bl 2007 tanggal 31 Agustus 2007 peraturan No.JLK1 tentang ” Kriteria dan penerbitan Daftar efek Syariah”angka 2 hurufe butir 4b.

Mekanisme transaksi Reksa Dana dalam konsep Fiqih Muamalah berjalan menggunakan akad Wakalah yaitu antara investor dengan Manajer Investasi. Dan Mudharabah antara Manajer Investasi dengan Perusahaan

Perbedaan lain antara Reksa Dana syariah dan Reksa Dana konvensional adalah keseluruhan proses manajemen portofolio, Screeninng (penyaringan), valuation (penilaian), strategi, controlling hingga benchmarking harus selalu dalam koridor yang sesuai dengan prinsip-prinsip syariah.

Dalam penyusunan portfolio investasinya, Reksa Dana syariah hanya dapat menempatkan dananya ke dalam instrumen-instrumen investasi yang terbebas dari riba dan praktek-praktek tidak halal menurut syariah.[6] Pada instrumen pasar modal, Reksa Dana Syariah hanya menempatkan dananya pada emiten atau perusahaan atau pihak-pihak  penerbit instrumen investasi yang tidak melakukan usaha-usaha yang bertentangan dengan prinsip kehalalan syariah seperti riba, perjudian, pornografi, minuman haram (alkohol), babi, dan hiburan yang bertentangan dengan syariah dan lain-lain. Sebagaimana firman Allah SWT  di dalam Al-Qur’an surat Al-Imron ayat 130 dan An-Nisa ayat 29, yang berbunyi :

“ Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan riba yang berlipat ganda dan bertaqwalah kamu kepada Allah supaya kamu mendapat keberuntungan.“

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian memakan harta sesama kalian dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perdagangan yang berlaku dengan suka sama suka diantara kalian.”(QS. An-Nisa’:29)

Untuk itu, fungsi dan tugas seorang manajer investasi pada Reksa Dana syariah menjadi lebih luas daripada manajer investasi Reksa Dan konvensional yaitu menyusun strategi portofolio [7]yang baik agar menghasilkan return optimal dan outperform dibandingkan dengan Reksa Dana lain, dengan tetap menjamin kehalalan proses investasi yang dilakukan.

Di Indonesia, instrumen–instrumen keuangan dan pasar modal yang sesuai dengan prinsip–prinsip syariah masih sangat terbatas. Sarana investasi Reksa Dana syariah di pasar modal terbatas pada saham-saham yang tercantum dalam Jakarta Islamic Index (berupa 30 saham yang dikategorikan halal sesuai keputusan DSN), Instrumen Obligasi syariah dan  instrument pasar uang seperti deposito mudharabah bank-bank Syariah dan Sertifikat Bank Indonesia syariah.[8]

Hal ini dapat menjadi kendala bagi Reksa Dana Syariah untuk mendapatkan return yang optimal. Sebagaimana penelitian yang dilakukan oleh Rothchild (1996) yang mengatakan “limitating choices based on non-fiancial criteria is destrimental to financial gains of portfolio performance” (Rothchild, 1996).

Penelitian Iggi H Achsien tentang perbandingan kinerja antara Reksa Dana syariah dan Reksa Dana konvensional di Malaysia memberikan kesimpulan berbeda dengan Rothchild. Dari penelitian Iggi Achsien disimpulkan bahwa keterbatasan sarana investasi ternyata tidak menyebabkan kinerja Reksa Dana Syariah (Islamic Mutual Fund) di Malaysia menjadi underperform dibandingkan Reksa Dana konvensional.  (Untuk lebih jelas baca  buku Iggi H. Achsien, “Investasi  Syariah di Pasar Modal”).[9]

Berbeda halnya dengan Iggi, penelitian tentang perbandingan kinerja antara reksa dana syariah dan reksa dana konvensional  di Indonesia yang dilakukan oleh Penulis ( Rinda Asytuti)  pada tahun 2001-2002, membuktikan bahwa minimnya sarana investasi yang sesuai syariah  mengakibatkan kesulitan bagi kinerja reksa dana syariah pada tahun tersebut untuk memberikan return optimal dibandingkan dengan reksa dana konvensional. Dengan menggunakan pendekatan Sharpe, Treynor dan Jensen, Penulis menghitung kinerja dengan menggunakan risk adjusted return dan non risk adjusted return, didapatkan fakta bahwa Untuk kasus reksa dana berimbang syariah dan reksa dana saham Dana reksa syariah menunjukkan hasil yang berbeda dari penelitian Iggi Ahsien. Ternyata, keterbatasan instrumen investasi  menyebabkan kinerja Reksa dana syariah masih underperformed dibandingkan dengan reksa dana konvensional. Dengan pendekatan Jensen, kinerja PNM syariah lebih kecil bila dibandingkan seluruh Reksa Dana konvensional dalam penelitian, terlebih lagi Danareksa Syariah Berimbang adalah Reka Dana yang paling underperformed.[10]

B. PEMBAHASAN

1. Datuk DR. Syech Othman Alhabshi : Islamic Fund in Malaysia ( presented at The Fund management Industry Conference 1995) .

Malaysia sebagai salah satu negara yang menyadari bahwasannya Malaysia dapat menjadi salah satu negara maju dalam financial Islam. Hal ini dapat dilihat dari perkembangan dunia financial dan investasi islam di Malayasia, sekaligus di dukung oleh komitmen dari pemimpin negara baik secara politik ,sosial dan ekonomi.

Bangunan sistim  financial islam di Malaysia adalah pertama, kerangka syariah berdasarkan Al-Qur’an, hadits dan hukum syariah  sebagai acuan norma basic pengembangan dan operasional islamic financial sistim. Kedua, Pendirian entitas bisnis financial islam oleh masyarakat untuk mengakomodir kebutuhan ekonomi. Ketiga, Pendirian BIMB pada tahun1983 sebagai bank syariah pertama di Malaysia.

Prinsip –prinsip syariah Keuangan Islam : a. landasan utama dari syariah atau hukum islam sebagaimana dikemukakan AL-ghazali dan Ibn Qayyim adalah : Tujuan syariah adalah untuk menjadikan kemakmuran bagi seluruh umat manusia yaitu melalui perlindungan terhadap kepercayaan, kehidupan, keintelektualan, kemakmuran dan kesehatan. Hal-hal yang dapat menjamin lima hal tersebut adalah diperbolehkan. Sedangkan Ibm Qayyyim mengatakan bahwa tujuan dari shariah adalah kesejahteraan manusia di dunia dan di akhirat. Kesejahteraan meliputi keseluruhan keadilan, keberkahan, kehidupan dan kemakmuran.Hal-hal yang menjauhkan dari keadilan, keberkahan, kesejahteraan dan kemakmuran bukan lah inti dari shariah.

Pernyataan Al-Ghazali dan Ibn Qayyim di atas menjelaskan bahwasannya Islam adalah agama yang sempurna yang concern kepada kesejahteraan manusia, pembangunan berkeadilan, dan pencegahan terhadap kekerasan dan kejahatan dalam segala aspek termasuk di dalamnya adalah bisnis dan ekonomi. Ekonomi Islam menekankan kepada pemerataan pendapatan, distribusi yang adil dan kesejahteraan dan kesejajaran. Prinsip keadilan, pemerataan dan keberkahan ini dapat dijadikan landasan dalam bertransaksi dalam kapital market mapun financial market.

Landasan ini adalah asas untuk muslim berusaha dalam memenuhi kebutuhannya untuk dunia dan akhirat. Dimana,kebutuhan dunia terkorelasi dengan kebutuhan ekonomi, pendirian lembaga ekonomi seperti bank, asuransi, pasar financial dan capital market dengan menggunakan asa-asas syariah adalah sebuah kewajiban. Salah satu produk investasi adalah islamic unit trust ( reksa dana syariah).

PRINSIP-PRINSIP  REKSA DANA SYARIAH

a. Pemilihan portfolio investasi yang sesuai dengan syariah. Dimana pemilihan portfolio efek harus di dasarkan pada prinsip keuangan islam yaitu menghindarkan diri dari riba, gharar dan maysir dan transaksi –transaksi yang batil yang dilarang oleh shariah sebagaiman firman Allah dalam Al-Qur’an: QS an-Nisaa ayat 29” Hai orang-orang yang beriman, janganlah engkau memakan harta sesamu secara batil, kecuali dengan perniagaan yang berlangsung secara suka-sama suka di antara kamu, ….”

b. Larangan Riba.

Islam melarang riba sudah diketahui bersama, dan pelarangan ini bukan saja untuk muslim tetapi juga dilarang dalam ajaran lain selain Islam. Walaupun masih terdapat perbedaan pandangan terhadap bunga akan tetapi pelarangan riba telah tercantum jelas di dalam Al-Qur’an surat Al-Baqarah ayat 275-276, 278-290.

Walaupun ayat diatas tidak menjelaskan jelas perbedaan antara riba dan usury akan tetapi dalam kristen dan yahudi dijelaskan bahwasannya bunga adalah ” jika kamu harus meminjamkan uang dan kamu meminta kelebihan beberapa dari jumlah uang yang dipinjam”

c. Larangan gharar. Gharar atau transaksi yang tidak jelas adalah bagian dari sistim judi. Judi adalah sebuah permainan tentang kesempatan, yaitu dimana tidak ada kemungkian untuk memprediksi keuntungan. Gharar dipahami sebagai transaksi yang tidak jelas. Hadits-hadits berikut dapat dijadikan rujukan untuk pemahaman lebih jauh mengenai Gharar.”Rasulullah s.a.w melarang jual beli dengan hasah dan penjualan gharar.” (HR. Muslim) dan hadits  “Dilarang menjual ikan dalam laut, yang seperti itu gharar (HR. Ibn Hambal)

Dari hadits di atas dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan Gharar adalah sesuatu yang mengandung ketidakpastian yang dapat menimbulkan kerugian. Transaksi atau akad semacam ini dilarang dalam Islam.

d. Larangan investasi pada makanan dan minuman yang tidak halal.  Alqur’an telah menjelaskan bahwa barang yang haram adalah khamar, babi, darah, bangkai. Dan Al-Qur’an memberikan landasan kepada manusia untuk memilih makanan dan minuman selain yang dilarang dengan tetap mengedepankan prinsip maslahah.

e. Prinsip keseimbangan. Syariah menekankan kepada umatnya untuk menjaga keseimbangan dalam segala hal yang dilakukan. Di dalam semua aspek hukum yang berkaiatan dengan tingkah laku manusia, muslim harus bersikap membangun ( seimbang)  bukan perusak termasuk juga dalam makanan dan minuman. Landasan ini dapat dijadikan acuan bagi muslim terutama dalam bertransaksi di pasar modal sehingga terhindar dari sikap serakah dan melakukan tindakan-tindakan yang dilarang oleh syariah.

f. prinsip etika. Etika ini merupakan hal yang ditekankan dalam shariah. Islam bukan hanya membahas tentang bagaiman etika dan moral yang baik akan tetapi juga memberikan giudlines tentang hal –hal yang dapat mencegah tindakan yang tidak etis dan  bermoral dalam berbagai aspek. Hal-hal yang jelas-jelas tidak diperbolehkan adalah insider trading, manipulasi pasar yang seringkali terjadi karena keserakahan manusia.

g. kepemilikan penuh. Artinya shariah melarang kita bertindak curang, dan menjual barang yang tidak kita miliki. Seperti prilaku short selling yang biasa terjadi di pasar modal.

TRANSAKSI FINANCIAL TRADISIONAL

Sebelum kedatangan Eropa, Inggris, Belanda dan Portugese ke Malaysia, terdapat transaksi tradisional di Malayasi yang sesuai dengan syariah. Walaupun tidak ada lembaga intermediate antara suplier atau defisit unit dan surplus unit, akan tetapi mereka meminjamkan uang diantara mereka tanpa bunga dan melakukan perdagangan sistim barter baik dalam negeri mapun di dunia internasional. Mekanisme yang dilakukan adalah mudharabah dan musyarkah ( sharing keuntungan antara pemilik kapital dan pedagang ).

Praktik ini kemudian menghilang ketika kedatangan bangsa Inggris ke Malaysia. Dimana ekonomi berbasis uang mulai menggejala dalam sistim keuangan. Akan tetapi masyarakat pedesaan tetap tidak ingin menginvestasikan uangnya di dalam bank yang berbasis bunga akan tetapi lebih memilih untuk haji dan investasi disebuah daerah. Hingga akhirnya Profesor Ungku Azis mendorong berdirinya Management haji dan keuangan pada tahun 1962. Lembaga ini mengumpulkan uang dari masyarakat untuk berbagai keperluan termasuk di dalamnya untuk mengurus penguburan.

PROSPECT FINANCIAL ISLAM MASA DEPAN.

Pertama dengan berdirinya bank Islam , Asuransi Takaful, Reksa dana , Baitul mal, Bank Rakyat sebagai bentuk dari pengembangan Islamic financial system membuat islamic fund berkembang sangat pesat.

Kedua, Banyak masyarkat muslim yang memiliki perusahaan berkomitment untuk melaksanakan bisnis sesuai dengan syariah dan menjadi bagian dari pengembangan Islamic financial system.,

Ketiga , pendirian bank islam, asuransi dll di negara tetangga seperti Brunei dan Indonesia  akan dengan semestinya memperbesar size investasi di masa yang akan datang.

ANALISIS

Dalam melakukan kegiatan investasi dan produksi, Islam  mengedepankan nilai-nilai moral di samping utilitas ekonomi. [11]Bahkan sebelum itu, Islam menjelaskan mengapa produksi harus dilakukan. Menurut ajaran Islam, manusia adalah khalifatullah atau wakil Allah di muka bumi dan berkewajiban untuk memakmurkan bumi dengan jalan beribadah kepada Nya. Dalam QS Al-An’aam (6) ayat 165 Allah berfirman: Dialah yang mengangkatmu menjadi khalifah di muka bumi, dan meninggikan setengah dari kamu daripada yang lain beberapa derajat, supaya Dia mencobaimu tentang apa-apa yang diberikannya kepadamu………” Pernyataan senada juga terdapat pada  QS Yunus (10) ayat 14. Islam juga mengajarkan bahwa sebaik-baik orang adalah orang yang banyak manfaatnya bagi orang lain atau masyarakat. Fungsi beribadah dalam arti luas ini tidak mungkin dilakukan bila seseorang tidak bekerja atau berusaha. Dengan demikian, berinvestasi, bekerja dan berusaha, menempati posisi dan peranan yang sangat penting dalam Islam. Sangatlah sulit untuk membayangkan seseorang yang tidak bekerja dan berusaha, terlepas dari bentuk dan jenis pekerjaannya, dapat menjalankan fungsinya sebagai khalifatullah dan bisa memakmurkan bumi serta bermanfaat bagi masyarakat.

Pada prinsipnya Islam juga lebih menekankan berproduksi demi untuk memenuhi kebutuhan orang banyak, bukan hanya sekadar memenuhi segelintir orang yang memiliki uang, sehingga memiliki daya beli yang lebih baik. Karena itu bagi Islam, produksi yang surplus dan berkembang baik secara kuantitatif maupun kualitatif, tidak dengan sendirinya mengindikasikan kesejahteraan bagi masyarakat. Apalah artinya produk yang menggunung jika hanya bisa didistribusikan untuk segelintir orang yang memiliki uang banyak.

Sebagai modal dasar berproduksi, Allah telah menyediakan bumi beserta isinya bagi manusia, untuk diolah bagi kemaslahatan bersama seluruh umat manusia. “(Dia) yang mengadakan bumi untukmu sebagai tikar dan langit sebagai atap dan Dia menurunkan hujan dari langit, lalu ditumbuhkanNya dengan air itu buah-buahan untuk rezeki bagimu; sebab itu janganlah kamu adakan bagi Allah beberapa sekutu, sedang kamu mengetahuinya (QS 2:22). Firman Allah senada terdapat pula pada QS 15:20, QS43:10, QS 20:53, QS 7: 10, QS 67:15 dan masih banyak lagi).

Bertolak dari penjelasan di atas, dalam melakukan kegiatan investasi,  Islam tidak hanya melihat optimalisasi atau bahkan maksimalisasi hasil akhirnya. Niat awal dan proses yang kemudian dijalani  harus tetap di jalur syar’i. Salah satu pedoman dasar tertuang dalam QS an-Nisaa ayat 29” Hai orang-orang yang beriman, janganlah engkau memakan harta sesamu secara batil, kecuali dengan perniagaan yang berlangsung secara suka-sama suka di antara kamu, ….”

Persoalannya adalah, bagaimana yang dimaksud bertransaksi secara benar menurut syariat, dan tidak jatuh pada kategori, “memakan harta sesama secara batil.”  Koridor syariah telah menentukan aturan, suatu transaksi yang dalam hal ini dipresentasikan dalam proses jual beli, dikatakan sah secara syar’i bila seluruh  rukun dan syaratnya dipenuhi.

Rukun akad jual beli menurut mayoritas ulama ada tiga, (Ibrahim, 2002, hal.111-120)  yakni:

  1. Aqid, adalah mereka yang mengadakan akad, ialah penjual dan pembeli.
  2. Ma’qud ‘alaihi atau objek akad, yaitu berupa tsaman (bayarannya) dan mutsaman (komoditasnya, atau barangnya).
  3. Shighat atau pernyataan yang terdiri dari ijab kabul.

Syariat Islam menetapkan dalam setiap akad harus terwujud ridhaiyyah atau kondisi suka sama suka. Landasan syariahnya yaitu Alquran (QS An Nisaa ayat 29). Kemudian hadis Rasulullah yang diriwayatkan Ibnu Majah: “Innama al bai’u ‘an taradhin” (Hendaklah jual beli itu dengan suka sama suka). Terakhir adalah ijma’ atau kesepakatan para mujtahid tentang keharaman mengambil harta orang lain kecuali pemiliknya rela. Beberapa cendekiawan Fiqh kontemporer di antaranya Prof.Dr Mustafa Ahmad Az-Zarqa (Al-Madkhal al Fiqh al-Am, vol. I hal. 467) merumuskan asas ridhaiyyah sebagai berikut: “Asas yang berlaku untuk memperoleh harta orang lain atau menghalakan hak orang  lain ialah kerelaan pemiliknya,baik dengan cara perdagangan dan tukar menukar atau pemberian dan pelepasan hak secara suka rela dan kemauan sendiri”.

Selain asas ridho, transaksi yang dibenarkan oleh Syariah adalah kehalalan barang dan  terhindar dari gharar, riba, dan Maysir. Riba secara bahasa bermakna ziyadah yang artinya tambahan. Secara linguistik, riba juga berarti tumbuh dan membesar. Adapun secara teknis, sebagaimana diungkapkan Syafii Antonio (2001, hal.37), riba berarti pengambilan tambahan dari harta pokok atau modal secara batil. Badr ad-Din al-Ayni, pengarang Umdatul Qari Syarah Shahih al-Bukhari menjelaskan  “Prinsip utama riba adalah penambahan. Menurut syariah, riba berarti penambahan atas harta pokok tanpa adanya transaksi bisnis riil.” sedangkan Imam an-Nawawi dari Mazhab Syafi’i: Imam Nawawi menjelaskan bahwa salah satu bentuk riba yang dilarang Al-Qur’an dan As-Sunnah adalah  penambahan atas harga pokok karena unsur waktu. Dalam dunia perbankan hal tersebut dikenal dengan bunga kredit sesuai lama waktu pinjaman.

Adapun landasan pelarangan riba adalah  “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan riba dengan berlipat ganda dan bertaqwalah kamu kepada Allah supaya kamu mendapat keberuntungan (QS. 3: 130)

“Dan disebabkan mereka memakan riba, padahal sesungguhnya mereka

telah melarang dari padanya, dan karena mereka memakan harta orang dengan jalan yang bathil. Kami telah menyediakan untuk orang-orang yang kafir di antara mereka itu siksa yang pedih.” (QS. 4: 161)

Praktek lain yang harus dihindari adalah Maysir dan Gharar. Maysir atau judi menurut Ibrahim Hosen adalah suatu permainan yang mengandung unsur taruhan yang dilakukan secara berhadap-hadapan oleh dua orang atau lebih. Dalam al-Qur’an surat al-Baqarah: 219, disebutkan:

Mereka bertanya kepadamu tentang khamar dan judi. Katakanlah, “Pada keduanya itu terdapat dosa besar dan beberapa manfaat bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar dari manfaatnya.”

Sedangkan Gharar dipahami sebagai transaksi yang tidak jelas. Hadits-hadits berikut dapat dijadikan rujukan untuk pemahaman lebih jauh mengenai Gharar.

“Rasulullah s.a.w melarang jual beli dengan hasah dan penjualan gharar.” (HR. Muslim)

Dilarang menjual ikan dalam laut, yang seperti itu gharar (HR. Ibn Hambal).

2. Shariah supervison of Islamic mutual fund dibahas dalam tulisan Yusuf Talal delorenzo ( dipresentasikan di Annual Harvard Forum on Islamic fianance ke 4)

Supervisi shariah di dalam reksa dana syariah adalah sebuah kebutuhan yang wajib. Dimana Reksa dana syariah menjadi wahana investasi halal bagi umat Islam untuk menghidupi diri dan keluarganya. Kehalalan Produk Reksa dana syariah adalah dengan memenuhi semua aturan dan mekanisme operasional yang sesuai dengan norma syariah, yaitu halal dalam pemilihan instrumen investasi, terbebas dari  riba, gharar, dan maysir.

Untuk itu keberadaan supervisi syariah sebagai bagian dari prinsip kontrol dan pelaksanaan syariah compliance perlu di tingkatkan. Keberadaan supervisi syariah dapat dijadikan sebagai pendekatan advokasi terhadap konsumen, yang dapat dijadikan landasan atas garansi pelaksanaan kaidah islam dalam berinvestasi. Garansi ini dapat memberikan return positif bagi MI dimana investor akan semakin yakin akan kehalalan investasi yang dilakukannya.

Keberadaan supervisi syariah dapat disejajarkan pada keberadaan auditor internal ataupun eksternal keuangan yang akan menjamin pelaksanaan peraturan berdasarkan undang-undang. Supervisi Syariah membawa dua job pokok yaitu pengawasi syariah compleance dalam management juga dapat menjadi perwakilan investor dalam perusahaan akan pemenuhan asas syariah.

Menurut Yusuf  Talal Delorenzo, tugas supervisi syariah tidak hanya terbatas pada screening dan menyeleksi equities portfolio investasi akan tetapi lebih dari itu yakni pada  proses purifikasi portfolio moral dan fiskal, purifikasi portfolio seleksi stock, portfolio monitoring: monitoring management, monitoring fee, monitoring dokumentasi keuangan, monitoring industry, product developmet, advokasi konsumen, membuat laporan secara teratur.

Purifikasi ini bukan berarti hanya zakat atau purifikasi harta dari hal- hal yang dilarang atau tidak halal atau sebagaimana prilaku kebanyakan masyakat muslim yang membersihkan harta seperti dengan infak, shodaqah atau menyedekahkan pendapatan non halal untuk kedermawanan. Akan tetapi yang dimaksud dengan purifikasi fiskal oleh dewan syariah adalah mengontrol terhadap seluruh pendapatan managemen yang kemungkinan masih tercampur dengan bisnis yang tidak sesuai syariah ataupun pendapatan dari bunga dan  berikut uang yang diinvestasikan agar sesuai dengan aturan-aturan syariah. Terlebih tugas purifikasi ini untuk menyakinkan kepada investor bahwa pendapatan yang diterima oleh investor benar-benar halal dari berbagai aspek.

Selain purifikasi fiscal dalam tubuh perusahaan investasi, tugas yang tidak kalah penting bagi dewan pengawas syariah adalah purifikasi moral. Bila purifikasi fiskal adalah pembersihan seluruh pendapatan dari pendapatan non halal dan pendapatan lain yang tidak sesuai dengan norma syariah, maka  purifikasi moral adalah pembersihan tingkah laku dari personel dan investor  yang berkecimpung dalam investasi maupun team management dengan menggunakan standarisasi nilai-nilai yang digariskan oleh Islam. Untuk menjalankan fungsi ini Dewan pengawas syariah harus masuk secara mendalam terhadap proses manajemen investasi dan rapat-rapat pemegang saham.

Tugas lain dewan pengawas syariah adalah purifikasi portfilio investasi. Tugas manajer investasi untuk membuat portfolio investasi agar menghasilkan return optimal bagi reksa dana seringkali dapat memberikan ruang untuk terjadinya pelanggaran terhadap prinsip-prinsip syariah.[12]

Selain investasi pada saham-saham yang listed yang sesuai dengan syariah seperti DOW JOWNS Islamix index tidak tertutup kemungkinan berinvestasi pada saham yang diluar itu.Untuk itu tugas menjadi dewan syariah adalah menyeleksi stock dan instrumen investasi yang sesuai dengan syariah. Sering kali guidliness syariah ini tidak secara otomatis masuk ke dalam software yang ada.

Terlebih pada itu selain melakukan screning portfolio investasi, tugas dewan syariah adalah memantau mekanisme atau operasional dalam tubuh management dengan tetap mengkontrol prilakku agar sesuai dengan etika dan moral islam.

Etika perusahaan sendiri tidak memiliki kriteria yang dapat diquantisir nilainya, akan tetapi merupakan tugas dewan pengawas syariah adalah menekankan pelaksanaan etika investasi (etikal investing) dalam tubuh perusahaan melalui pemenuhan tanggung jawab social perusahaan, tanggung jawab sosial investasi, investasi kepercayaan dan investasi .

Tugas yang tidak kalah penting Dewan Pengawas syariah setelah screening stock adalah melakukan monitoring stock. Hal ini dilakukan karena dalam dunia bisnis sangat jarang  keadaan akan berlangsung sama, Sebagai perusahaan yang tidak didasarkan pada  bunga, maka Fund managemen sebaiknya memiliki return minimal 15 %. Alasan inilah yang kadang mesti diwaspadai oleh DPS untuk melakukan monitoring terhadap stock/saham yang diinvestasikan agar sesuai dengan syariah.

Tugas manajer investasi untuk membuat portfolio investasi agar mencapai return maksimal seringkali memberikan ruang untuk tergelincirnya investasi pada hal-hal yang tidak sesuai dengan syariah. Untuk itulah tugas DPS selalu melakukan monitoring terhadap portfolio.

ANALISIS

Keberadaan Dewan Pengawas syariah dalam sebuah perusahaan investasi yang mempunyai produk reksa dana syariah adalah sebuah kemestian. Walaupun saat ini tidak semua perusahaan investasi memiliki DPS yang aktif dalam pengelolaan investasi dalam tubuh management, akan tetapi pelaksanaan prinsip syariah dalam portfolio investasi adalah wajib.

Ide tugas DPS yang kompleks sebagaimana yang ditulis oleh Profeesor Yusur Talal Delarezo, penulis sangat menyetujuinya. Dimana peran DPS tidak hanya pada purifikasi porfolio investasi[13] akan tetapi lebih jauh terlibat dalam monitoring  tubuh managemen. Langkah ini dilakukan agar perusahaan investasi dapat memeberikan garansi akan kehalalan return yang dihasilkan melalui purifikasi dan screening syariah dari semua lini. Revitalisasi peran dewan pengawas syariah adalah salah satu pelaksanaan prinsip good corporate governance.[14] Dimana hal tersebut sangat krusial dilakukan terutama dalam lembaga bisnis syariah.

Menurut Lielwellyn (1999) terdapat tiga element untuk mewujudkan sisitim keuangan yang kokoh, mampu stabil dan efisien dalam rentang kondisi pasar. Pertama,  sistim keuangan harus memilki fleksibilitas untuk menghadapi perubahan di dalam pasar. Kedua, sistim keuangan harus memilki kapasitas untuk mengatasi gangguan keuangan yang muncul yang disebabkan gangguan eksternal. Ketiga, sistim keuangan harus memilki stabilitas internal. Disebutkan pula beberapa factor penyebab instabilitas pasar keuangan seperti instabilitas ekonomi makro, infrastuktur pendukung yang lemah, tidak adanya disiplin pasar dan kelemahan pengawasan dan pengaturan.

Dewan Pengawas syariah merupakan alat kontrol yang wajib bekerja maksimal untuk memberikan ketenangan bagi investor akan kehalalan investasi dan kesesuaiannya dengan syariah. Dengan tugasnya ini DPS dapat menjadi konsumen advokat perusahaan investasi yang memiliki produk instrumen investasi syariah atau reksa dana syariah.

3. Professor Kabir Hasan dan Said Elfakhani ’ Performance of Islamic mutual fund  yang dipresentasikan di Annual Research Forum 2005 di kairo.

Seiring dengan perkembangan isitim financial islam pada awal tahun 1990 an muncul islamic mutual fund atau reksa dana syariah. Pada tahun 2005 terdapat 126 reksa dana syariah dengan dana kelolaan mencapai 4 triliun dollar Amerika. Dengan menggunakan benchmark DJI DOWN JONES ISLAMIX INDEKS, FTSE Global Islamic Indeks, Kuala Lumpur Syariah Indeks di Malaysia, maka kinerja reksa dana syariah dapat diperbandingkan dengan kinerja reksa dana syariah konvensional.

Reksa dana syariah pada saat penelitian dilakukan notabene merupakan salah satu industri yang sedang berkembang. Terdapat 82 % equity fund, 12% Balanced fund, dan 2 persen sukuk. 126 Reksa dana syariah terdiri dari :35 global equity fund, 10 Amerika equity fund, 5 eropa equity fund,5 Asia equity fund, 29 malaysia equity fund, dan 13 equity fund dari arab Saudi dan Kairo dan 8 dari Afrika Selatan

Perkembangan Reksa dana syariah cukup menggembirakan , Pada tahun 2000, jumlah reksa dana syariah tumbuh dari 8 pada ahun 1992, menjadi 92 pada tahun 1995 dengan aset 5 triliun dolar Amerika. Pertumbuhan Reksa dana syariah mengalami masa sulit pada tahun 2001-2002.

Dalam tulisannya  Prof Kabir dan Said Elfakhani menjelaskan bahwa reksa dana syariah dan reksa dana konvensional memiliki persamaan dalam beberapa sisi. Akan tetapi reksa dana syariah memiliki peraturan spesifik dimana keseluruhan proses investasi yang dilakukan harus sesuai dengan nilai-nilai syariah, termasuk di dalamnya penyusunan portfolio investasi/efek yang harus di tempatkan pada instrumen (saham, obligasi, Pasar uang, deposito) yang halal menurut syariah dan terbebas mekanismenya dari riba, gharar, maysir. Selain itu perusahaan investasi juga menjauhkan diri dari praktek-prakter terlarang, seperti hedging, transaksi dengan menggunakan instrumen berbasis bunga, insider trading, margin on trading. Namun beberapa pendapat masih memperbolehkan pendapatan yang sedikit tercampur dengan bunga, asalkan pendapatan bunga tersebut nantinya di bersihkan dengan cara mengeluarkan zakat-atau purifikasi.

Dalam strukturalnya Reksa dana syariah memiliki mekanisme kontrol atau pengawasan yang berbeda dengan konvensional. Selain pengawasan dalam pelaksanaan mekanisme trading dan keuangan, reksa dana syariah juga diawasi ketat oleh Dewan Pengawas syariah. DPS dalam tugasnya akan mengawasi keseluruhan proses management, investasi (asset allocation, fund management,dan pelaksanaan zakah)  agar selalu sesuai dengan prinsip-prinsip syariah.

Dalam tulisannya pula kedua penulis membeberkan fakta akan kinerja Reksa dana syariah yang ada di dunia pada saat itu. Dengan menggunakan pendekatan  sharpe, treynor dan Jensen, keduanya membandingkan kinerja reksa dana syariah dibandingkan dengan benchmark yang sesuai dengan sifat reksa dana masing-masing. Penelitian dilakukan dengan menggunakan 3 pendekatan ini dengan pertimbangan ketiganya mempertimbangkan tingkat resiko dan tingkat keuntungan.

Penelitian pengukuran kinerja reksa dana syariah bukanlah hal pertama yang dilakukan oleh akademisi. Sebelumnya banyak penelitian yang dilakukan seperti Iggi ahsien di Malaysia, Rinda Asytuti di Indonesia, Luther ,Matako dan Corner ( 1992) membandingkan kinerja ethical funds dengan benchmarkingnya menemukan bahwa ethical fund outperforme.

Dengan menggunakan 46 reksa dana syariah yang dibagi menjadi 8 sektor berdasarkan daerah dan  jenis investasi yaitu : Global equity fund, european equity fund, asian equity fund, American Equity fund, Malaysian equity fund, Emerging market equity fund, Emerging market south Africa,small cap technology fund. Dengan menggunakan data mulai 1 agustus 1997 sampai 31 desember 2002.

Adapun benchmark yang dipakai adalah Islamic Market Index dan S&P 5oo Composite Index, U.S, Treasurry Bill, Kuala Lumpur Stock Exchange Syariah Index untuk Malaysian equity Fund. Dow Jones Islamic Index untuk Smal cap fund, FTSE  untuk Europe, American, South Africa, Global dan Pasific Basin.  risk free.

Penilaian kinerja ini mengguanakan pendekatan Sharpe, Treynor dan Jensen  dengan rumus :

Sharpe=(Rp-Rf) / σ

Dimana

σp= √∑( Rp- E (Rp))²

n-1

Treynor = (Rp-Rf)/ β

Dimana

β im = Covim  / σ²m                                                                            

Dan Jensen dengan menggunakan pendekatan risk adjusted return sebagaimana di rumus CAPM. Alfa menunjukkan outperformed atau underperfomed sebuah portfolio atas benchmarknya.

( Rp-Rf)=α+ β (Rm-Rf)

Dengan menggunakan pendekatann sharpe,maka data penelitian yang dapat dihasilkan adalah :

  1. Dari sharpe ratio yakni return per unit berbanding dengan total resiko, terlihat bahwa Emerging market fund, American fund, Sout Africa fund memiliki ratio yang lebih besar. Sedangkan Malaysian Fund, Global Fund,Asian fund, European Fund dan technology memiliki rasio negative.
  2. 8 Kategori reksa dana tadi ketiga dibandingkan dengan Islamic Index terdapat 4 reksa dana yang baik yaitu Emerging Market, European fund, malaysian Fund, American fund. Sedangkan ketika dibandingkan dengan S&P 500 Global Fund, terdapat 4 kategori yang baik yaitu Emerging market,Technology,  South Africa fund dan American Fund
  3. Hanya Asian Fund yang memiliki rasio sharpe yang kecil dan selalu berada dibawah benchmarknya.
  4. 29 fund outperformed dibandingkan benchmarknya, 12 fund outperformed dibandingkan S&P500, 11 fund sepadan dengan benchmarknya,dan Asian Fund memiliki kinerja terburuk dibawah benchmarknya.Dari seluruhnya Emerging Market dan technologylah yang memilki kinerja terbaik.

Dengan menggunakan pendekatan treynor didapatkan hasil bahwasannya semua sample mempunyai kinerja yang baik kecuali malaysian fund dan asian fund. Sedangkan dalam pendekatan Jensen diketahui bahwa seluruhnya mempunyai kinerja lebih baik bila dibandingkan masing-masing benchmarknya, S&P500.

ANALISA.

Dari tulisan Professor Kabir Hasan dan Said Elfakhani, tentang Kinerja Reksa Dana syariah di dunia dengan menggunakan sample 46 reksa dana dengan menggunakan data 1 Agustus 1997 hingga 31 Desember 2007 terlihat mayoritas reksa dana memiliki kinerja lebih baik dibandingkan dengan benchmarknya kecuali Asian fund.

Dalam pengukuran kinerja reksa dana syariah masih mengggunakan pendekatan yang sama dengan pengukuran reksa dana pada umumnya yaitu sharpe, Treynor dan Jensen. Dimana dari ketiga pendekatan tersebut selalu memperhitungkan resiko yang dikandung oleh instrumen.

Dalam reksadana syariah terdapat sejumlah risiko yang dibedakan atas sumber penyebabnya. Menurut Achsien (2000, hal. 82-82) macam-macam risiko itu antara lain:

  1. Risiko politik dan ekonomi: Risiko yang berasal dari perubahan kebijakan ekonomi dan politik yang berpengaruh  pada kinerja bursa dan perusahaan sekaligus, sehingga akhirnya membawa efek pada portofolio yang dimiliki suatu reksadana.
  2. Risiko pasar: Risiko yang berasal dari variabilitas return karena fluktuasi dalam keseluruhan pasar sehingga berpengaruh pada semua sekuritas.
  3. Risiko inflasi: Risiko yang berasal dari menurunnya daya beli akibat terjadinya inflasi.
  4. Risiko nilai tukar: Risiko ini dapat terjadi bila terdapat sekuritas luar negeri dalam portofolio reksadana.
  5. Risiko spesifik: Risiko yang melekat pada setiap sekuritas yang dimiliki. Di samping dipengaruhi pasar secara keseluruhan, setiap sekuritas mempunyai nilai risiko sendiri-sendiri.
  6. Risiko menurunnya nilai unit penyertaan (NAV): Nilai NAV akan dipengaruhi dari harga efek-efek yang menyusun portofolionya. Ini berkaitan dengan kemampuan manajer investasi reksadana dalam mengelola dananya.
  7. Risiko likuiditas:  Penjualan kembali (redemption) sebagian besar unit penyertaan oleh investor kepada fund manager secara bersamaan dapat menyulitkan manajemen perusahaan dalam menyediakan dananya. Tentu saja risiko ini hanya terjadi pada perusahaan reksadana yang sifatnya terbuka (open-end funds). Risiko ini dikenal juga sebagai redemption effect.

Risiko dalam The American Herritage Dictionary didefinisikan sebagai “the possible of suffering harm or loss“. Dalam buku-buku investasi risiko berarti ketidakstabilan return yang diukur oleh simpangan baku (deviasi standar) dari distribusi return portfolio. Parameter yang juga digunakan untuk menghitung risiko investasi deviasi standar (akar variance) dan Beta. Teori Portfolio Modern mengasumsikan investor sebagai risk aversion (penghindar risiko) artinya investor akan lebih memilih portfolio investasi dengan simpangan baku lebih kecil. Untuk mendapatkan risiko lebih kecil Teori Portfolio Modern Harry Markowitz mengajarkan bagaimana mengkombinasikan instrument-instrumen investasi (portfolio) agar menghasilkan return maksimal dari risiko tertentu atau memperoleh keuntungan tertentu dengan risiko minimal. Diversifikasi investasi dimaksudkan untuk menghilangkan risiko atau mengeliminir risiko. Menurut teori Capital Asset Priciping Model (CAPM) Markowitz, risiko investasi dibedakan menjadi dua yaitu risiko yang tidak sistematis (unsystematic risk) adalah risiko yang dapat dihilangkan dengan cara diversifikasi investasi dan risiko sistematis (systematic risk) adalah risiko yang tidak dapat dihilangkan melalui diversifikasi. Risiko sistematis sering pula disebut dengan risiko pasar (market risk) disimbolkan dengan beta. Risiko tidak sistematis menyangkut risiko yang disebabkan oleh faktor-faktor yang ada dalam intern perusahaan seperti konflik internal perusahaan, perubahan manajemen, pemogokan dan lain-lain yang dapat diantisipasi dengan diversifikasi. Sedangkan risiko sistematis menyangkut risiko yang disebabkan faktor-faktor diluar perusahaan dan di luar jangkauan investor misalnya kebijakkan pajak pemerintah, kuota, suku bunga dan sebagainya. Penjumlahan kedua risiko ini dinamakan dengan risiko total. Untuk itu Langkah bijak yang harus dilakukan adalah meletakkan dananya tidak dalam satu jenis instrument investasi (sebagaimana bunyi pameo investasi “jangan meletakkan telur dalam satu keranjang”).

Standart Deviasi

Ilustrasi Pengurangan risiko dengan diversifikasi Gambar II-1( Husnan,162,1998)

0

Standar Deviasi

Sebenarnya cara yang bermanfaat menghitung risiko adalah dengan cara mempertimbangkan dan menghitung seluruh probabilitas negatif dari suatu hasil invetasi. Akan tetapi cara ini tidak efektif dilakukan. Penghitungan risiko akan lebih mudah dan efektif dilakukan dengan cara menghitung simpangan baku yaitu mengestimasi kemungkian perbedaan return nyata (riil) dari ekspektasi return. Dalam Reksa Dana deviasi standar dihitung dengan rumus (Ross, 242, 2000):

σp= √∑( Rp- E (Rp))²                                                                       (2.1)

n-1

Deviasi standar tidak hanya mengukur simpangan atau disperse ke bawah (keuntungan yang kurang dari expected return) akan tetapi juga  simpangan  atau disperse ke atas (keuntungan yang melebihi expected return). Dalam hal ini yang dimaksud dengan risiko adalah tingkat simpangan ke bawah. Apabila distribusi probabilitas keuntungan terdistribusi secara normal maka risiko berbanding lurus dengan tingkat (ukuran) simpangan atau deviasi standart. Untuk menghitung deviasi standard dari probabilitas keuntungan dapat ditempuh dengan dua cara yaitu Ex-ante dan Ex-post. Cara Ex-ante artinya memprediksikan apa yang akan terjadi (deviasi standar)  dimasa mendatang tanpa menggunakan data masa lalu. Cara ini ditempuh dengan terlebih dulu menetapkan probabilitas dari suatu kejadian yang akan terjadi di masa mendatang. Cara menghitungnya digunakan rumus: (Ross, 242, 2000 )

n

σ= √ ∑( Ri- E (Ri)) ² . Pi                                                                  (2.2)

i=1

Sedangkan cara ex-post adalah menghitung standard deviasi dari keuntungan yang diharapkan dengan menggunakan data historis atau data masa lalu. Dengan cara ini akan didapatkan rata-rata deviasi standar dari masa lalu, Untuk menghitungnya digunakan rumus: (Ross, 242, 2000 )

n

σ = √ ∑(Ri- -E (Ri)) ² . Pi                                                                  (2.3)                                                    i=1

n-1

BETA

Beta adalah covarian relative terhadap varian portfolio pasar (Sharped dan Alexander, 1997:281). Beta yang merupakan ukuran risiko yang berasal dari hubungan antara tingkat pengembalian suatu saham dengan tingkat pengembalian pasar disebut dengan beta investasi atau beta saham.  Dalam membentuk suatu portfolio investasi para analis sekuritas melakukan diversifikasi dengan cara risiko portfolio yang diukur dengan standar deviasi sebagian besar akan tergantung dengan nilai beta dari sekuritas-sekuritas yang membentuknya. Beta juga merupakan koefisien regresi  antara dua variable  yaitu kelebihan tingkat keuntungan portfolio pasar (excess return to market portfolio) dan kelebihan tingkat keuntungan suatu saham (excess return of stock). Portfolio pasar dalam teori CAPM mendapat tempat khusus. CAPM mengasumsikan bahwa portfolio pasar berada pada efesien set dan semua investor memiliki portfolio pasar yang dikombinasikan dengan sejumlah pinjaman dan pemberian pinjaman bebas risiko (E(Rm)-Rf). Portfolio pasar dapat dipergunakan sebagai standar evaluasi kinerja umum dari suatu portfolio investasi.

Dalam teori CAPM, setiap investor memiliki portfolio pasar dan memberikan perhatian terhadap simpangan baku karena hal ini akan mempengaruhi kemiringan CML (Capital Market Line) dan besarnya investasi pada portfolio pasar. Kontribusi sekuritas terhadap simpangan baku portfolio tergantung pada besarnya kovariannya dengan portfolio pasar. Hubungan antara covarian dan ekspektasi return disebut dengan Security Market Line (SML)

Hubungan antara risiko suatu sekuritas dengan pasar dapat dilakukan dengan menggunakan kefisien beta sebagi pengganti kovarian sekuritas. Untuk menghitung koefisien beta digunakan formulasi (Sharpe dan Alexander,1997,275)

β im = Covim  / σ²m                                                                          (2.4)

Apabila beta pasar  =1 maka rata-rata tertimbang dari seluruh asset harus sama dengan satu,. Hal ini terjadi jika pasar  adalah suatu portfolio dari semua asset yang ada di pasar ekonomi.

Konsep beta CAPM Willian Sharpe bukanlah tanpa cacat. Pada kenyataannya portfolio yang memiliki beta tinggi tidak secara otomatis menghasilkan return yang lebih tinggi dibandingkan dengan portfolio yang memiliki beta kecil pada saat bullish.  Akan tetapi beta dapat dijadikan variable pengukur rata-rata return saham bila kondisi pasar efisien.

COVARIANCE

Koefisien korelasi adalah menunjukkan bagaimana suatu variable bergerak  bersama dengan variable lainnya. Koefisien korelasi selalu berada dianatara -1 dan nilai + 1. Nilai -1 menunjukkkan korelasi negatif yang berarti jika salah satu sekuritas yang lain memiliki return yag relatif tinggi, maka sekuritas lain berjalan sebaliknya. Demikian pula sebaliknya bila nilai koefisien suatu sekuritas bernilai satu. Sharpe dan alexander merumuskan covariance suatu portfolo dengan indeks pasar dengan formulasi (Sharpe dan Alexander,1997,188):

COV im= ρi.σi σm                                                    (2.5)

dimana :

Covim   = Covariance antara portfolio dengan indeks pasar

Ρi   = Koefisien korelasi anatara return portfolio dengan return indeks        pasar

σi        = Deviasi standar portfolio

σm      = Deviasi standar pasar

Risk Free Rate (Tingkat bebas risiko)

Risk free rate adalah suatu tingkat suku bunga atau pendapatan yang dihasilkan dari instrumen  investasi yang memiliki risiko terkecil seperti deposito bank, Sertifikat bank Indonesia ataupun surat berharga pemerintah seperti obligasi ,obligasi  BUMN, Sertifikat Wadiah Bank Indonesia.

Risk free rate penting diperhatikan sebagai benchmark (tolak ukur) kinerja suatu instrumen investasi  atau sebagai salah satu bagian dari suatu portfolio investasi seperti Reksa Dana.  Naik turunnya nilai suku bunga dalam hal ini  SBI ataupun deposito maupun obligasi pemerintah lainnya akan berakibat langsung  pada pendapatan investasi yang dilakukan terutama Reksa Dana.

4. Abd. Ghafar b. Ismail dan Moh. Sahruddin B. Sakharani Aman “ The conditional CAPM and Cross Sectional Evidence of Return and Beta For Islamic Unit Trust in Malaysia.”( IIUM Journal Economic management vol 11 N0.1 2003

Tulisan ini bertujuan untuk melihat hubungan antara return dan beta dalam reksa dana syariah di Malaysia sebagaimana teori CAPM dengan menggunakan regerssi analisis. Disampinng itu tulisannya  ditujukan juga untuk menganalisa apakah beta dapat digunakan sebagai market risk baik( R adjusted) dalam market yang positif ataupun market negative.

Teori CAPM yang digulirkan oleh sharpe dan  litner dan Mossin adalah satu-satunya model yang sering dipake untuk menghitung pengaruh beta dengan return Reksa dana. Dalam hubungannya dengan beta dan return dalam saham, penelitian yang dilakukan oleh  Heston( 1999) menunjukkan terdapat korelasi positif i yang sgnifikan antara return dan beta dan korelasi negatif dengan size.

Sedangkan penelitian Fama dan Frenc (1992) di US Stock Return membuktikan hal yang berbeda dimana tidak terdapat korelasi positif signifikan antara retun dan beta. Begitu pula penelitian yang dilakukan oleh Strong   Xu (!997) di UK Stock Market. Adapun Pattengil dan  Fletcher (2000) menyatakan bahwa terdapat relasi significant anatar return dan beta bilamna pasar dalam keadaan baik, akan tetapi bila pasar turun atau anjlok tidak terdapat korelasi positif yang signifikan antara beta dan return. Penelitian ini juga didukung oleh Hodosima.

Walaupun CAPM seringkali dipakai untuk menghitung return di saham, akan tetapi untuk ranah reksa dana tidak semua menggunakannya. Beberapa  yang menggunakan model CAPM dalam reksa dana adalah Sharpe, Jensen, Firth, Koh, Chin, Kee, Fletcher, Hodosima dan Konimura.

Reksa dana syariah di Malaysia di mulai 1971 dengan  adanya Asia UT Amanah bhakti fund yang ada dalam perusahaan Asia Unit Trust Benhard. Hingga juni 1997 terdapat 15 unit trust di Malaysia dengan dana kelolaan sebersar 770.72 miliar ringgit. Dalam penelitian ini yang menjadi sample untuk mengukur peranan beta dan corelasinya terhadap return adalah 12  unit trust. Adapun Teori yang dipakai adalah teori portfolio selection Markowitz yang selanjutnya dikembangkan oleh sharpe, treynor dan litner , mossin untuk mengukur kinerja sebuah investasi yang dikenal dengan teori CAPM (Capital Aset Pricing Model). Dalam ranah reksa dana terbukti bahwa dalam penelitian yang dilakukan kepada 34  unit trust tahun 1954-1963, mengindikasikan adanya korelasi signifikan antara return dan beta. Begitu pula penelitian yang dilakukan oleh Jensen.

Adapun hasil penelitian yang didapat adalah bahwa penulis untuk kasus reksa dana di malaysia, temuan mendukung hasil penelitian Hodosima dan Kanimura (2000)  bahwa tidak ada korelasi signifikan antara return dan beta.

5. . Forte dan F Migleatta dalam tulisannya Islamic mutual funds as-faith based fund in socially responsible context” .Boccony university Milan.

Berbicara tentang sosial responsible investment (SRI) seringkali agak sulit dijabarkan.Terlebih ketika agama dimasukkan sebagai bagian dari SRI ini. SRI  di kenal dalam dua dekade terakir. Ketika diperkenalkan tahun 1920, SRI adalah bentuk investasi yang mengindahkan kepentingan lingkungan dan moral.

Di Eropa pada saat itu memiliki dana kelolalaan sebesar 1,15 triliun euro atau sebesar 10-15 % dari keseluruhan investasi. SRI yanng ada saat itu  94 %berbentuk investasi kedermawanan ( charity), pensiun, dan gereja. Tidak hanya di eropa SRI juga berkembang di Amerika dengan dana kelolaan 2,9 Triliun dollar atau 9,4 % dari seluruh investasi .

Menurut Wilson, Investor muslim yang melalukan skreening atas investasi yang dilakukan terutama dalam Reksa dana syariah yaitu dengan hanya menempatkan portfolio investasi yang tidak mengandung riba, gharar dan maysir sesuai dengan al-Qur’an dan Hadits, dapat dikategorikan sebagai SRI. Menurut data Falaika setiap tahun pertumbuhan reksa dana syariah mencapai 12-15 % tahun dengan dana kelolaan saat ini adalah 16 miliar dolar Amerika.

Tetap yang menjadi kesulitan adalah mendefinisikan SRI, terutama ketika agama dimasukkan sebagai indikator. Untuk itulah Forte dan Miglietta tertarik untuk memaparkan lebih lanjut tentang SRI dan Reksa dana syariah sebagai bagian dari investasi yang berporos atas kepercayaan dalam kaitannya dengan SRI.

Kemunculan SRI di Eropa tepatnnya di Inggris, pada dasarnya diawali oleh gereja yang menghindari investasi di dalam efek yang tidak halal (mengandung dosa dalam paradigma gereja) . Akan tetapi baru tahun1960 para pakar keuangan moralis menyebarkan instrument investasi berbasis kepercayaan atau berlandaskan pada nilai-nilai gereja. Pada perkembangannya investasi jenis ini dikenal dengan investasi yang beretika ( etikal investment) atau investasi yang memilki tanggung jawab social.

Cowton berusaha mendefinisikan SRI sebagai investasi yang mengindahkan nilai-nilai moral, sosial dan etika dalam menyusun portfolio investasinya . Akan tetapi yang kemudian menjadi persoalan adalah betapa sulitnya mengkuatifisir nilai etika dan moral, karena masing-masing negara memiliki persepsi sendiri misalnya tentang HAM. Sedangkan EUROSIF mendefinisikan SRI adalah investasi yang beretika dimana memiliki tujuan moral, konsen terhadap sosial dan tidak hanya return akan tetapi 3P yaitu people, planet dan profit.

Dari definisi-definisi diatas, maka SRI dapat di simpulkan sebagai : Pertama, bahwa SRI memiliki tugas moral dimana investasi semestinya dapat mempertemukan antara kebutuhan manusia dan tanggung jawab sosial. Kedua SRI,adalah investasi yang memiliki nilai lebih dimana SRI dapat mengurangi pencemaran, tindakan pelanggaran hak asasi manusia, kerusakan lingkungan dan praktik-praktik kecurangan bisnis juga bisnis haram.

Selanjutnya Forte memaparkan tentang prinsip investasi syariah yang tidak hanya mengedepankan pencapaian keuntungan akan tetapi juga pelaksanaan investasi berdasarkan prinsip prinsip syariah, kehalalan investasi, dan terhindar dari praktek-praktek riba, gharar  dan Maysir.

Dalam kaitannya dengan reksa dana syariah terdapat 3 langkah yang ditempuh adalah pertama, memilih aset alocation atau menyusun portfolio investasi.Kedua, instrumen dan strategi.Ketiga distribusi income dan purifikasi (zakah). Purifikasi dilakukan karena kemungkinan tercampurnya pendapatan halal dan non halal yang ada dalam return yang dihasilkan.

Untuk pengawasan terhadap kesusuaian syariah, maka dalam perusahaan investasi yang menerbitkan reksa dana syariah harus terdapat badan / lembaga pengawasan syariah ( DPS).

Dalam tulisan ini akhirnya di dapatkan kesimpulan bahwa Reksa dana syariah berbeda dengan SRI pada umumnya. Karena pada Reksa dana syariah tidak hanya bekerja menghasilkan return yang tidak bertentangan dengan kepentingan sosial, etika akan tetapi lebih dari itu reksa dana syariah berjalan dengan menggunakan landasan nilai-nilai agama islam yang memiliki norma-norma tersendiri.

ANALISIS

Pengertian investasi cukup banyak ragamnya. William F. Sharpe (1990, hal. 1) dalam bukunya Investment menyatakan bahwa investasi berarti pengorbanan nilai saat ini yang pasti, untuk nilai mendatang yang mungkin tidak pasti. Sedangkan Jones (1996, hal. 6) menulis bahwa investasi adalah satu komitmen dana pada satu atau beberapa aset yang akan dipegang selama beberapa waktu mendatang. Selain itu,  investasi juga dapat didefinisikan sebagai satu wahana penempatan dana, sehingga dana tersebut terjaga nilainya dari gerusan inflasi, bahkan meningkat dan atau memberikan imbal hasil yang positif (Kertonegoro, 1996, hal. 5).

Investasi berdasarkan konsep Islam sesungguhnya tidak berbeda dengan konsep konvensional secara filosofis. Namun tentu saja ada perbedaan dalam operasionalnya. Perbedaan investasi secara Islam  dengan investasi konvensional, yang paling fundamental adalah (Gunawan Yasni, 2003):

  • Investasi Syariah mempunyai substansi entitas investasi yang sesuai syariah Islam.
  • Investasi Syariah mempunyai cara mentransaksikan  substansi entitas investasi yang sesuai dengan syariah Islam.
  • Sementara investasi konvensional, dalam kedua hal itu mengacu  pada hukum positif dan kelaziman dalam komunitas investasi secara umum.

Manakala seorang investor muslim hendak memilih satu bentuk investasi tertentu. Ia harus memperhatikan beberapa hal penting, antara lain:

  • Klasifikasi substansi, antara lain:
  • Tidak memproduksi barang haram. Termasuk bukan Lembaga Keuangan Konvensional.
  • Rasio utang dengan modal < 30%
  • Pendapatan bunga  < 15%  dari pendapatan usaha riilnya.
  • Rasio kas/aktiva tidak sama dengan 100%.
  • Cara masuk ke substansi entitas investasi harus transparan.
  • Manajemen Aktiva investasi tersebut harus berkualitas
  • Investor juga harus memperhatikan perkiraan risk dan return dari investasi tersebut
  • Lingkungan investasi harus sesuai dengan aturan yang berlaku.
  • Tingkat likuiditasnya harus bagus.

Islam mengajarkan kepada umatnya untuk mengedepankan etika dam moral dalam tinjauan syariah dalam melakukan sesuatu termasuk di dalamnya investasi. Islam mengajarkan manusia untuk tidak membuat kerusakan di bumi akan tetapi memiliki fungsi sebagai khalifah. Selain itu Islam mengajarkan untuk menyeimbangkan kepentingan dunia dan akhirat, tidak bersifat tamak dan serakah dan selalu memperhatikan kepentingan orang lain.

Etika sering dikaitkan dengan moral. Dalam bahasa latin Yunani Etika berasal dari kata A thikos yang diterjemahkan dengan” mores” yang berati kebiasaan. Aristoteles menyebutkan etika ini dalam bukunya “Ethique A nicomaque” sebagai “mores” yang juga berarti kebiasaan. Kata moral ini mengacu pada baik dan buruknya manusia terkait dengan tindakan, sikap dan ucapannya. [15]

Etika  bisnis adalah aplikasi pemahaman kita tentang apa yang baik dan benar untuk beragam institusi,  teknologi, transaksi , aktivitas dan usaha yang di sebut dengan bisnis. Etika bisnis berarrti bertumpu pada kesetiaan sikap etis dan komitmen moral untuk tidak berbuat curang, merugikan orang lain, Negara dan masyarakat, mengancam lingkungan serta kebudayaan  yang telah ada.

Etika bisnis merupakan elemen yang wajib dimunculkan dalam kegiatan transaksi yang disebut bisnis. Seiring dengan peningkatan peradaban manusia dan semakin ketatnya persaingan, terkadang bahkan tidak jarang pengusaha melakukan berbagai cara untuk mencapai tujuan. Praktik kecurangan seperti insider trading, windsows dressing, penipuan, manipulasi data keuangan, penyuapan terhadap birokrasi, monopoli, serta kolusi dan nepotisme sering dilakukan.

Islam melalui ajaran-ajarannya telah menetapkan kerangka moral dan etika sebagai acuan manusia dalam menjalani perannya di muka bumi. Ethical investment sendiri tercermin dalam konsep zakah, infak dan shadaqah juga niali-nilai kehalalan investasi.

DAFTAR PUSTAKA

Al-Qur’anul Karim

Achsien, Iggi H., Investasi Syariah di Pasar Modal, Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama , 2000

Arifin, Ali., Membaca Saham, Yogyakarta : Andi, 2000

Asytuti, Rinda,  Analisis Perbandingan Kinerja Reksa Dana Syariah dan Reksa Dana Konvensional pada periode 2002-2003, Tesis PSKTTI-UI, Jakarta, 2003.

Bapepam, Dana dan Investasi, Jakarta : Capital Market Society of Indonesia, 1997

BEJ, Paduan Pemodal Seri I Investasi di Pasar Modal, Jakarta : PT. Bursa Efek Jakarta, 1999

Chapra, Umer, Sistem Moneter Islam, Jakarta: PT. Gema Insani Press, 2000

Fabozzi, Frank, Manajemen Investasi Buku Dua, Jakarta : Salemba Empat, 2000

Hanafi, Mamduh dan Husnan, Suad, Prilaku Harga Saham Perdana: Pengamatan di Bursa Efek Jakarta selama 1990, Manajemen Usahawan Indonesia, Nopember, 1991

Hayes, Samuel L, Vogel Frank, E,  Islamic Law And Finance; Religion, Risk, and Return ; Netherland, Kluwer Law International, 1998

Henny,A., Pengujian Standar CAPM dan Perluasannya: Pengamatan di BEJ, Thesis tidak dipublikasikan, Program Studi MM-UGM, Yogyakarta, 1995

Husnan,Suad, Dasar-Dasar Teori Portfolio dan Analisis Sekuritas, Yogyakarta: AMP YKPN, 2001

Jaffe, Ross, Westerfield, Corporate Finance,New York: MacGraw-Hill, 2002

Jogiyanto,H.M, Dr, Teori Portfolio Dan Analisis Investasi, Yogyakarta: BPFE, 2000

Jurnal Pasar Modal Indonesia, Jakarta.

Majid, Zafar Syed N, Islamic mutual fund, www.

Mannan, Abdul, Teori dan Praktek Ekonomi Islam, Yogyakarta, PT.Dana Bhakti Wakaf

Manurung Haymans Adler, Lima Bintang Untuk Agen Penjual REKSA DANA, Jakarta: PT. Ghalia Indonesia, 2002

Metwally, M M, Teori dan Model Ekonomi Islam (terj), Jakarta: PT. Bangkit Daya Insanna, 1995

Miller ,M.H.,and Scholes, M., Rates of Return in Relation to Risk: A Re-Examination of Some Recent Finding.,in Jensen(ed)Studies in Theory of Capital Markets, New York: Pager, 1972

Murthada Muthahari, Pandangan Islam tentang Asuransi dan Riba (terj), Bandung: Pustaka Hidayah, 1995

Noer, Ipandia Ridjani, Aplikasi CAPM: Studi Kasus BEJ, Skripsi FE-UGM, Yogyakarta, 1997

Petty, J, William, Arthur J. Keown, David F Scott, Jr, John D, Martin,Basic Financial Management terjemah Chaerul D. Djakman, Jakarta : Salemba Empat,1999

Pratomo, Eko dan Ubaidillah Nugraha, Reksa Dana : Solusi Perencanaan Investasi di Era Modern, Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Umum

Pudjiastuti. Enny dan Husnan, Suad, Stabilitas Beta: Pengamatan di BEJ, Manajemen dan Usahawan Indonesia, Desember, 1993

Rahman, Afzalur, Doktrin Ekonomi Islam (terj), Yogyakarta, PT.Dana Bhakti Wakaf,1995

Saeed, Abdullah, Islamic Banking and Interest A Study of The Prohibition of Riba and its Ontemporery Interpretation, (terj), Yogyakarta, Pustaka Pelajar, 2003

Setyanto,Budi, Menyusun portofolio investasi optimal Reksadana Batasa Syariah dengan metode markowitz, , Tesis PSKTTI-UI, Jakarta, 2003.

Sharpe, William, Gordon J Alexander., Investasi, Jakarta : PT. Prenhallindo, 1997

Sistompul, Asril,. Reksadana : Pengantar dan Pengenalan Umum, Bandung : PT. Citra Aditya Bakti, 2000


[1] Walter Up gradegrave dalam bukunya “investing in Mutual Funds” (1996:6) mendefinisikan Reksa Dana sebagai

A Mutual Fund is essentially a company that poll money from investor likes you and hires an investment adviser ( usually known as the portfolio manager or fund manager ) to buy stocks, bonds, money –market instruments, or a combination of all three of these securities with that pool of money. When you invest in a find, you purchase shares that represent ownership of the securities in the fund. These shares also  entitle you to a share of the income and profits ( or. Yes, it happens, losses) that those securities generate. “. Amy L. Doumini dan Peter D Kinder dalam bukunya ” Ethical Investing” mendefiniskan Reksa Dana sebagai berikut :

A  mutual fund pool its share holders’ resources under professional management for specific purpose. The fund managers define the purpose when they start the fund and describe it in the fund’s prospectus.The purpose may be nebulous, like providing high income. Or it may be as specific as investing in companies returning from the brink of bankruptcy or in particular government securities”

[2] Reksa Dana sebagai media investasi telah lebih dahulu diperkenalkan di Amerika dengan nama “investment Trust”, “Mutual Fund”, “Investment fund”. Menurut sifatnya,  Reksa Dana dibagi menjadi dua yaitu Reksa Dana terbuka (Open End Investment) dan Reksa Dana tertutup (Close End Investment). Reksa Dana terbuka adalah Reksa Dana yang dapat menawarkan dan membeli kembali saham-saham dari pemodal sampai dengan sejumlah yang telah dikeluarkan (Undang-undang Pasar Modal pasal. 19). Pemegang saham atau unit penyertaan pada Reksa Dana terbuka dapat menjual kembali saham penyertaan setiap saat apabila diinginkan.

Reksa Dana terbuka merupakan Reksa Dana yang sangat populer di Amerika dibandingkan dengan instrument investasi seperti saham dan obligasi karena Reksa Dana jenis ini di nilai lebih likuid.

Sedangkan pada Reksa Dana tertutup, pemegang saham tidak dapat menjual kembali sahamnya pada perusahaan Reksa Dana penerbit. Apabila pemegang Reksa Dana hendak menjual sahamnya, proses jual beli saham hanya dapat dilakukan di Bursa Efek tempat Reksa Dana tersebut dicatat. Dengan demikian jumlah lembar saham yang beredar untuk Reksa Dana tertutup ini tidak berubah. Sedangkan harga dari saham Reksa Dana ini berubah–ubah dipengaruhi permintaan dan penawaran, sama halnya dengan fluktuasi harga saham perusahaan publik lainnya. Untuk itu harga pasar tidak selalu sama dengan NAB per sahamnya, adakalanya lebih besar dari NAB per saham (at premium) atau lebih kecil dari NAB per sahamnya (at discount).

Di Amerika, Reksa Dana tertutup dipahami dengan Reksa Dana yang memiliki sejumlah saham tertentu dan biasanya terdaftar di pasar modal.  Alokasi investasi Reksa Dana ini ditempatkan pada obligasi, saham dan convertible bond atau gabungannya dari perusahaaan perusahaan tertentu untuk mendapatkan return dan capital gain. Dalam usaha mencapai return, Reksa Dana tertutup lebih berpeluang besar untuk memperoleh keuntungan yang lebih tinggi di bandingkan dengan Reksa Dana Terbuka karena beberapa hal yaitu pertama, keputusan yang dilakukan oleh manajer investasi tetap terlindungi dalam artian menajer investasi tidak perlu was-was dengan gonjang-ganjing yang terjadi pada pasar saham di bursa karena tidak terdapat kewajiban untuk membeli kembali saham-saham yang dijual investor. Kedua,  kesempatan peningkatan investasi lebih besar. Ketiga, kemudahan untuk mendapatkan pinjaman. Kestabilan Reksa Dana tertutup ini membuat lembaga-lembaga keuangan lebih bersedia memberi pinjaman

[3] Pertumbuhan Reksa Dana di Indonesia sejak diperkenalkan tahun 1996, cenderung lebih lambat dibandingkan dengan negara lain. Namun, tahun 2002, Dana kelolaan Reksa Dana meningkat tajam menjadi 46,6 triliun rupiah dari tahun sebelumnya 2001 sebesar 8 triliun rupiah. Untuk itu, tahun 2002 dapat dikatakan sebagai tahun emas Reksa Dana. (majalah CFO Indonesia,2003,13)

[4] Reksa dana Syariah yang ada saat ini adalah PNM Investment Management: Reksa Dana PNM Amanah Syariah , Reksa Dana PNM Syariah, PNM Amanah Syariah Terproteksi,PNM Ekuitas Syariah, Danareksa Investment Management: Reksa Dana Danareksa Indeks Syariah (DINAR) ,Reksa Dana Syariah Berimbang, AAA Securities: Reksa Dana AAA Amanah Syariah Fund, Reksa Dana AAA Syariah Fund, Bank Syariah Mandiri:BSM Investa Berimbang, Mandiri Investa Atraktif Syariah, IPB :IPB Syariah ,Capital :Capital Syariah Flexi, Trimegah Sekuritas: Trimegah Syariah Berimbang,Trim Syariah Saham, Medali: Medali Syariah Forti :Fortis Pesona Amanah BNI Asset Management: BNI DanaSyariah, BNI Dana Plus Syariah , BNI Dana Syariah Terproteksi , Batasa Capital: Reksa Dana Batasa Syariah, Reksa Dana Dompet Dhuafa-Batasa Syariah,Il-Hajj Syariah Fund dan Lautandhana: Lautandhana Syariah. ( Data tahun 2007)

[5] Walaupun secara mekanisme operasional, menghitungan kinerja , reksa dana syariah masih menggunakan teoti keuangan konvensional, akan tetapi perbedaan mendasar pada sisi purifikasi syariah dan syariah compliance adalah sebuah kehasurasn untuk itu di PT MI , keberadaan DPS adalah wajib untuk memantau operasionala Reksa dana syariah sehingga tetap dalam koridor hukum syariah. Shariah supervison of Islamic mutual fund dibahas dalam tulisan Yusuf Talal delorenzo ( dipresentasikan di Annual Harvard Forum on Islamic fianance ke 4)

[6] Investasi yang dilakukan oleh seorang muslim adalah investasi yang dilakukan berdasarkan Al-Qur’an dan Haditas dan terhindar dari Riba, gharar dan Maysir. Etika investasi muslim dibahas juga oleh Datuk Dr Syech Othman Alhabshi dengan judul Islamic Fund in Malaysia ( presented at The Fund management Industry Conference 1995)

[7] Penyusunan portfolio investasi pada reksadana syariah menggunakan teori Markowitz. ( lihat tulisan dan menggunakan teori CAPM ( The capital Aset Pricing Model )untuk menghitung kinerja  seperti yang dibahas dalam tulisan Abd. Ghafar b. Ismail dan Moh. Sahruddin B. Sakharani Aman “ The conditional CAPM and Cross Sectional Evidence of Return and Beta For Islamic Unit Trust in Malaysia.”( IIUM Journal Economic management vol 11 N0.1 2003

[8] Criteria saham halal Klasifikasi substansi, antara lain:Tidak memproduksi barang haram. Termasuk bukan Lembaga Keuangan Konvensional.,Rasio utang dengan modal < 30 %,Pendapatan bunga  < 15%  dari pendapatan usaha riilnya, Rasio kas/aktiva tidak sama dengan 100%.

[9] Penelitian tentang perbandingan kinerja reksa dana syariah dan konvensional ini juga dilakukan oleh Professor Kabir Hasan dan Said Elfakhani ’ Performance of Islamic mutual fund  yang dipresentasikan di Annual Research Forum 2005 di kairo.

[10] Rinda Asytuti, Perbandingan kinerja reksa dana syariah dan reksa dana konvensional dalam menghasilkan return optimal tahun2001-2002 , Jakarta, tesis Ui. 2003

[11] Islamic mutual fun atau reksa dana syariah adalah sarana investasi seorang muslim yang menyeimbangkan antara kebutuhan ukhrawi dan utilitas ekonomi secara bersamaan. Reksa dana syariah dengan aturan syariah yang diberlakukan dalam penyusunan portfolio dipahami sebagai investasi yang menggunakan paradigma ethika dan region secara simultan. Fenomena ini dijelaskan oleh G. Forte dan F Migleatta dalam tulisannya Islamic mutual funds as-faith based fund in socially responsible context” .Boccony university Milan.

[12] Target yang ketat dan tuntutan dari pemegang saham dapat menimbulkan resiko terjadinya konflik keagenan. Permasalahan agency muncul ketika kepengurusan suatu perusahaan terpisah dari kepemilikan. Dengan kata lain, dewan komisaris dan direksi sebagai agent dalam suatu perusahaan mempunyai kepentingan yang berbeda dengan pemegang saham. Khusus di Indonesia, karena struktur kepemilikan perusahaan yang sangat terkonsentrasi, maka masalah agency cost dapat timbul dari perbedaan kepentingan antara pemegang saham pengendali dengan pemegang saham minoritas/stakeholders. Karena kewajiban fidusiari inilah maka dewan komisaris, direksi atau pemegang saham pengendali perusahaan dilarang untuk mengambil keutungan dari orang yang memberi kepercayaan yakni pemegang saham minoritas dan stakeholder lainnya seperti kreditur melalui transaksi yang tidak wajar dan tidak adil.

[13] Tugas manajer innvestasi adalah melakukan pertama, menentukan kebijakkan investasi , kedua, membuat kebijakkan investasi, ketiga memilih strategi portofolio, keempat allocation asset yaitu  proses pembagian dana dalam berbagai macam aset. Secara umum, keputusan dalam alokasi asset ini meliputi empat tahap: pertama, Jenis aset yang dipertimbangkan untuk investasi, kedua, Proporsi untuk setiap jenis aset dalam portofolio, ketiga, batasan yang dizinkan untuk perubahan proporsi, keempat. sekuritas spesifik apa yang dibeli untuk mengkonstruksi portofolio yang efisien. Dan kelima melakukan pengukuran kinerja. Eko Priyo P, 2002, 84)

[14] Finance Committee on Corporate Governance Malaysia mendefinisikan corporate governance sebagai proses dan struktur yang digunakan untuk mengarahkan dan mengelola bisnis dan kegiatan perusahaan kearah peningkatan pertumbuhan bisnis dan akuntabilitas perusahaan. Adapun tujuan akhirnya adalah meningkatkan kemakmuran pemegang saham dalam jangka panjang dengan tetap memperhatikan kepentingan stakeholders lainnya[14]. Definisi ini menekankan bahwa sebaik apapun suatu struktur corporat governance namun jika prosesnya tidak berjalan sebagaimana mestinya maka tujuan akhir melindungi kepentingan pemegang saham dan stakeholders tidak akan pernah tercapai. Herwidayatmo, Implementasi Good Corporate Governance untuk Perusahaan Publik di Indonesia, Jakarta, Usahawan no. 10 th xxix oktober 2000 h.5

[15] Aristoteles menempatkan etika sebagai moral, akan tetapi franzmagnis soseno membedakan etika dari moral. Etika baginya adalah penyelidikan filsafat tentang kewajiban-kewajiban manusia serta tentang baik dan buruk . Sedangkan moral adalah ajaran-ajaran baik berbentuk lisan mapun tulisan. Lihat lebih lanjut Frans Magnis Suseno,Etika Umum, Masalah-masalah pokok Filsafat Moral, Yogyakarta: Kanisius , 1979 h. 12-13.

About rindaasytuti

saat ini tercatat sebagai mahasiswa pascasarjana UIN Jakarta. Dan sekaligus pengajar di STAIN Pekalongan View all posts by rindaasytuti

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: