Profesionalisme Pengusaha Paradigma Ekonomi Islam

  1. A. Pendahuluan

Islam dalam ajarannya mendudukkan manusia adalah sebagai khalifatullah atau wakil Allah di muka bumi dan berkewajiban untuk memakmurkan bumi dengan jalan beribadah kepada Nya. Dalam QS Al-An’aam (6) ayat 165 Allah berfirman:

Dialah yang mengangkatmu menjadi khalifah di muka bumi, dan meninggikan setengah dari kamu daripada yang lain beberapa derajat, supaya Dia mencobaimu tentang apa-apa yang diberikannya kepadamu..”

Pernyataan senada juga terdapat pada  QS Yunus (10) ayat 14. Islam juga mengajarkan bahwa sebaik-baik orang adalah orang yang banyak manfaatnya bagi orang lain atau masyarakat. Fungsi beribadah dalam arti luas ini tidak mungkin dilakukan bila seseorang tidak bekerja atau berusaha. Dengan demikian, berinvestasi, bekerja dan berusaha, menempati posisi dan peranan yang sangat penting dalam Islam. Sangatlah sulit untuk membayangkan seseorang yang tidak bekerja dan berusaha, terlepas dari bentuk dan jenis pekerjaannya, dapat menjalankan fungsinya sebagai khalifatullah dan bisa memakmurkan bumi serta bermanfaat bagi masyarakat.

Sebagai modal dasar berproduksi/berusaha/berekonomi, Allah telah menyediakan bumi beserta isinya bagi manusia, untuk diolah bagi kemaslahatan bersama seluruh umat manusia.

“(Dia) yang mengadakan bumi untukmu sebagai tikar dan langit sebagai atap dan Dia menurunkan hujan dari langit, lalu ditumbuhkanNya dengan air itu buah-buahan untuk rezeki bagimu; sebab itu janganlah kamu adakan bagi Allah beberapa sekutu, sedang kamu mengetahuinya (QS 2:22).

Firman Allah senada terdapat pula pada QS 15:20, QS43:10, QS 20:53, QS 7: 10, QS 67:15 dan masih banyak lagi).

Islam sebagai sistim ekonomi merupakan penggalian dari nilai-nilai Islam berkaitan dengan muamalah. Dalam terminologi umum muamalah diartikan sebagai segala aktivitas manusia yang dilakukan diluar ibadah. Muamalah dibagi menjadi dua yaitu muamalah Maddiyah ialah hubungan kebutuhan hidup yang berkaitan dengan ekonomi atau materi dan kedua muamalah adabiyah ialah pergaulan hidup yang diakitkan dengan moral dan kemanusiaan. [1] Islam tidak melarang manusia untuk memenuhi kebutuhannya termasuk kebutuhan duniawi. Salah satu yang dilakukan adalah kegiatan berdagang . Berdagang adalah sarana bagi manusia untuk mengembangkan harta yang dimilikinya guna memenuhi kebutuhan hidup.

Karakter ekonomi Islam juga turunan dari nilai Islam yang moderat sebagaimana yang tercantum di dalam surat Al Baqarah ayat 143 yaitu muslim mengemban tugas sebagai suhada dan acuan bagi kebenaran dan standar kebaikan bagi umat manusia.

Islam melarang menumpuk-numpuk harta benda dan tidak menafkahkannya atau menelantarkannya. Islam tidak menginginkan adanya penumpukkan harta benda tanpa difungsikan sebagaimana mestinya, karena hal ini dapat mematikan roda perekonomian.

Disamping itu Islam tidak hanya mendorong segala bentuk kerja produktif, tetapi Islam menyatakan bahwa bekerja keras bagi seorang muslim adalah suatu kewajiban. Penghargaan kerja keras ini sebagaimana tertera dalam hadis dan ayat yang artinya:

Seandainya seseorang mencari kayu bakar dan dipikulkan di atas punggungnya, hal itu lebih baik daripada kalau ia meminta-minta kepada seorang yang kadang-kadang diberi, kadang pula ditolak” (H.R. Bukhari dan Muslim)

Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain”.(Q.S. Alam Nasyrah/94: 7)

Dalam Islam, nilai keimanan menjadi aturan yang mengikat, dimana setiap perbuatan manusia tidak boleh lepas dari nilai yang secara vertikal merefleksikan moral yang baik dan secara horizontal memberi manfaat bagi manusia dan mahluk lainnya. [2]

KONSEPSI PROFESIONAL BERDAGANG RASULULLAH

Salah satu cara yang dilakukan dalam hal bermuamalah oleh seorang Muslim adalah berdagang. Profesi dan muamalah ini telah dicontohkan dengan secara gamblang sosok Nabiyullah Muhammad SAW. Bahkan disisi lain, profesi ini adalah bagian dari anjuran beliau kepada Umatnya, sebagaimana sabdanya:

“berdaganglah kamu, sebab lebih dari sepuluh bagian dari kehidupan, sembilan diantaranya dihasilkan dari berdagang”.

Dalam melakukan kegiatan berekonomi/berdagang,  Islam tidak hanya melihat optimalisasi atau bahkan maksimalisasi hasil akhirnya. Niat awal dan proses yang kemudian dijalani harus tetap di jalur syar’i. Salah satu pedoman dasar tertuang dalam QS an-Nisaa ayat 29

Hai orang-orang yang beriman, janganlah engkau memakan harta sesamu secara batil, kecuali dengan perniagaan yang berlangsung secara suka-sama suka di antara kamu, ….”

Dalam bermuamalah Islam menggariskan bertransaksi secara benar menurut syariat, dan tidak jatuh pada kategori, “memakan harta sesama secara batil.” Koridor syariah telah menentukan aturan, suatu transaksi yang dalam hal ini dipresentasikan dalam proses jual beli, dikatakan sah secara syar’i bila seluruh  rukun dan syaratnya dipenuhi.

Rukun akad jual beli menurut mayoritas ulama ada tiga:[3] (Ibrahim, 2002, hal.111-120)  yakni:

  1. Aqid, adalah mereka yang mengadakan akad, ialah penjual dan pembeli.
  2. Ma’qud ‘alaihi atau objek akad, yaitu berupa tsaman (bayarannya) dan mutsaman (komoditasnya, atau barangnya).
  3. Shighat atau pernyataan yang terdiri dari ijab kabul.

Syariat Islam menetapkan dalam setiap akad harus terwujud ridhaiyyah atau kondisi suka sama suka. Landasan syariahnya yaitu Alquran (QS An Nisaa ayat 29). Kemudian hadis Rasulullah yang diriwayatkan Ibnu Majah: “Innama al bai’u ‘an taradhin” (Hendaklah jual beli itu dengan suka sama suka). Terakhir adalah ijma’ atau kesepakatan para mujtahid tentang keharaman mengambil harta orang lain kecuali pemiliknya rela. Beberapa cendekiawan Fiqh kontemporer di antaranya Prof.Dr Mustafa Ahmad Az-Zarqa[4] merumuskan asas ridhaiyyah sebagai berikut:

Asas yang berlaku untuk memperoleh harta orang lain atau menghalakan hak orang  lain ialah kerelaan pemiliknya,baik dengan cara perdagangan dan tukar menukar atau pemberian dan pelepasan hak secara suka rela dan kemauan sendiri”.

Selain asas ridho, transaksi yang dibenarkan oleh Syariah adalah kehalalan barang dan  terhindar dari gharar, riba, dan Maysir. Riba secara bahasa bermakna ziyadah yang artinya tambahan. Secara linguistik, riba juga berarti tumbuh dan membesar. Adapun secara teknis, sebagaimana diungkapkan Syafii Antonio [5]riba berarti pengambilan tambahan dari harta pokok atau modal secara batil. Badr ad-Din al-Ayni, pengarang Umdatul Qari Syarah Shahih al-Bukhari menjelaskan  “Prinsip utama riba adalah penambahan. Menurut syariah, riba berarti penambahan atas harta pokok tanpa adanya transaksi bisnis riil.” sedangkan Imam an-Nawawi dari Mazhab Syafi’i: Imam Nawawi menjelaskan bahwa salah satu bentuk riba yang dilarang Al-Qur’an dan As-Sunnah adalah  penambahan atas harga pokok karena unsur waktu. Dalam dunia perbankan hal tersebut dikenal dengan bunga kredit sesuai lama waktu pinjaman.

Adapun landasan pelarangan riba adalah

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan riba dengan berlipat ganda dan bertaqwalah kamu kepada Allah supaya kamu mendapat keberuntungan (QS. 3: 130)

“Dan disebabkan mereka memakan riba, padahal sesungguhnya mereka

telah melarang dari padanya, dan karena mereka memakan harta orang dengan jalan yang bathil. Kami telah menyediakan untuk orang-orang yang kafir di antara mereka itu siksa yang pedih.” (QS. 4: 161)

Praktek lain yang harus dihindari adalah Maysir dan Gharar. Maysir atau judi menurut Ibrahim Hosen adalah suatu permainan yang mengandung unsur taruhan yang dilakukan secara berhadap-hadapan oleh dua orang atau lebih. Dalam al-Qur’an surat al-Baqarah: 219, disebutkan:

Mereka bertanya kepadamu tentang khamar dan judi. Katakanlah, “Pada keduanya itu terdapat dosa besar dan beberapa manfaat bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar dari manfaatnya.”

Sedangkan Gharar dipahami sebagai transaksi yang tidak jelas. Hadits-hadits berikut dapat dijadikan rujukan untuk pemahaman lebih jauh mengenai Gharar.

“Rasulullah s.a.w melarang jual beli dengan hasah dan penjualan gharar.” (HR. Muslim)

Dilarang menjual ikan dalam laut, yang seperti itu gharar (HR. Ibn Hambal).

Perdagangan memang memiliki kedudukan yang lebih tinggi dibanding industri, pertanian, dan jasa. Perdagangan telah banyak menghantarkan orang untuk menjadi kaya raya dan menghantarkan suatu bangsa untuk dapat menguasai beberapa belahan dunia.

Dalam perspektif ekonomi Islam, seorang pedagang atau pengusaha haruslah memiliki modal dasar, diantaranya :

  1. Bertanggung jawab

Allah SWT berfirman : ”…Kemudian, kamu pasti akan ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan (yang kamu megah-megahkan) di dunia….” (QS Al-Kautsar [108] : 8)

Maka seorang pengusaha yang ideal hendaknya ia mampu untuk menunaikan kewajibannya dan bertanggung jawab tidak hanya kepada sesamanya melainkan juga kepada Allah SWT. Dengan begitu ia akan menjadi pribadi yang berguna, taat kepada Allah SWT dan pekerja yang bertanggung jawab di masyarakat.

  1. Mandiri

Allah SWT berfirman : “…Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum, sehingga kaum itu mengubah keadaannya sendiri….”(QS Al-Ra’d [13] : 11)

Maka seorang pengusaha yang ideal hendaknya tidak menggantungkan nasibnya pada belas kasihan orang lain selain pada kemandiriannya dalam bekerja.

  1. Kreatif

Allah SWT berfirman : “…Maka menyebarlah kamu sekalian di muka bumi dan carilah keutamaan Allah….” (QS Al-Jumu’ah [62] : 10)

Maka seorang pengusaha yang ideal hendaknya tidak pernah kehabisan akal dalam mengarungi kehidupan ini, terutama dalam menghadapi para pesaing bisnisnya. Kegagalan dalam salah satu usaha akan memacu kreatifitas berkarya dalam bentuk dan cara yang lain.

  1. Mampu mengambil pelajaran dari pengalaman

Allah SWT berfirman : “…Dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat) ….” (QS Al-Hasyr [59] : 18)

Maka seorang pengusaha yang ideal hendaknya selalu menjadikan kegagalan maupun kesuksesan yang telah diperolehnya sebagai guru yang paling baik dalam memberikan pembelajaran untuk mengambil langkah dan strategi yang tepat di masa yang akan datang.

  1. Selalu optimis dan tidak pernah putus asa

Allah SWT berfirman : “Dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah selain orang-orang kafir.” (QS Yusuf [12] : 87)

Maka seorang pengusaha yang ideal hendaknya selalu memiliki sikap optimisme, sehingga muncul dalam dirinya kesungguhan tekad dalam berusaha dan akan menjadi pendorong disaat menemui kegagalan.

  1. Jujur dan dapat dipercaya

Seorang pengusaha yang ideal hendaknya selalu mengutamakan sikap jujur dan dapat dipercaya karena hal inilah yang akan jadi penentu seseorang sukses dalam memperoleh kebahagiaan.

  1. Sabar dan tidak panik

Seorang pengusaha yang ideal hendaknya selalu sabar dan tidak panik manakala menemui kegagalan, melainkan ia selalu yakin dan percaya akan pertolongan Allah SWT yang Maha Pengasih dan Penyayang.

Selain itu terdapat hal-hal yang harus dilakukan oleh seorang pengusaha ideal,  yang tercermin dalam pribadi Rasulullah SAW adalah :

  1. Selalu jujur, tidak mempraktikkan kebohongan dan penipuan. Rasullullah SAW terkenal dengan sifat Shiddiq. Shidiiq berarti jujur , tidak pernah berdusta . Rasulullah SAW bersabda dalam hadits yang diriwayatkan oleh Muttafaqunalaih.

“ Hendaklah kalian berusaha menjadi orang yang benar dan jujur. Karena kejujuran akan melahirkan kebaikan. –kebaikan. Dan kebaikan akan menunjukkan jalan ke surga…. ( HR. Muttafaqun Alaih )

Apresiasi Rasulullah SAW kepada pengusaha yang jujur sangat gamblang dalam sabdanya

“ Pedagang yang jujur dan terpercaya akan bersama para nabi, shiddiqin, orang-orang yang mati syahid dalam peperangan, dan orang-orang yang shaleh (kelak dalam surga. ( HR. Imam Tirmidzi)

  1. Tegas dalam timbangan dan takaran
  2. Rendah hati dan bertutur kata sopan. Sikap ini tercermin dalam konsepsi diri Rasulullah Tabligh.
  3. Adil terhadap semua pelanggan
  4. Memberikan pelayanan yang memuaskan kepada semua pelanggan
  5. Berkompetisi dengan sportif
  6. Mengutamakan tolong-menolong
  7. Menentukan harga dengan adil
  8. Profesional
  9. Qawi (Kuat)
  10. Itqan (Sempurna)
  11. Jahada (Sungguh-sungguh)

10.  Saling menghormati dan menghindari buruk sangka

11.  Senang memberi hadiah dalam rangka meningkatkan ukhuwah Islamiyah dan tidak mengandung unsur riswah (suap)

Selain itu terdapat beberapa transaksi dan perbuatan  yang harus dihindari oleh seorang Pengusaha atau pengusaha ideal, diantaranya :

  1. Gharar atau Taghrir (Ketidakpastian) dalam kuantitas, kualitas, harga, dan waktu penyerahan.
  2. Tadlis (Perdagangan dengan penipuan) dalam kuantitas, kualitas, harga, dan waktu penyerahan.
  1. Menimbun barang untuk menaikkan harga
  2. Menjual barang hasil curian dan korupsi
  3. Transaksi najasy (iklan dan promosi palsu)
  4. Mengingkari perjanjian
  5. Banyak bersumpah untuk meyakinkan pembeli
  6. Mempermainkan harga
  7. Bersifat memaksa dan menekan

10.  Mematikan pedagang kecil

  1. Melakukan monopoly’s rent seeking atau ikhtikar (Mengambil keuntungan di atas keuntungan normal dengan cara menjual sedikit barang untuk harga yang lebih tinggi)
  2. Menjual sesuatu yang hukumnya haram
  3. Melakukan riswah (sogok)
  4. Tallaqi Rukban (aktivitas yang dilakukan oleh para tengkulak).

Pengusaha Muslim Peduli Lingkungan dan Sesama.

Islam memberikan tuntunan dalam bermuamalah yaitu kehalalan, keberkahan, dan keadilan juga kemaslahatan.  Manan menegaskan bahwa Setiap usaha manusia untuk memperoleh kekayaan dengan aturan tertentu dan tidak bertentangan dengan ahlak dan etika. Manan juga mendeskripsikan delapan ketentuan syariat yang mengatur tentang mobilitas dan sirkulasi kekayaan pribadi sebagai berikut ; kekayaan harus dimanfaatkan terus menerus, pembayaran zakat, penggunaan harta benda yang berfaedah, penggunaan tidak merugikan orang lain. Kepemilikan harta secara sah. Penggunaan harta yang seimbang. Islam melarang penggunaan harta yang tidak bermanfaat dan  harta yang diperoleh dibersihkan dengan zakat dan tidak menumpuknya tanpa melakukan kegiatan investasi.

Islam sebagai agama yang memberi rahmat bagi seluruh alam, memiliki komitmen kuat terhadap pengentasan kemiskinan. Hal ini ditegaskan oleh Allah dalam Alquran Surat Al Hasyr Ayat 7 yang berbunyi :

“Apa saja harta rampasan yang diberikan Allah kepada Rasul-Nya yang berasal dari penduduk kota-kota maka adalah untuk Allah, Rasul, kerabat Rasul, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang-orang yang dalam perjalanan, supaya harta itu jangan hanya beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kamu.” (QS. 59: 7).

Dalam ayat lain, Allah berfirman: “Dan orang-orang yang dalam hartanya tersedia bagian tertentu, bagi orang miskin yang meminta dan orang yang tidak mempunyai apa-apa (yang tidak mau meminta).” (QS. 70:24–25).

Dua ayat di atas sangat jelas dan tegas menyatakan bahwa Islam mempunyai kepedulian terhadap kaum miskin. Pemerataan harta (kapital) merupakan konsep Islam dalam upaya pengentasan kemiskinan. Islam mempunyai konsep ekonomi berdasarkan syariah (Alquran dan sunah) mengajarkan kepada umatnya untuk menegakan keadilan (QS 5:8/57:25), mengembangkan sikap optimis dalam berusaha/tidak pasrah dalam jerat kemiskinan (QS. 62:10), tidak menghalalkan segala cara dalam upaya pengentasan diri dari jerat kemiskinan (QS. 5:87–88) serta mengajarkan sikap saling tolong menolong dalam bingkai persaudaraan yang kokoh (QS. 49:13).

Untuk itu dalam Islam dikenal ajaran zakat. Islam mewajibkan kepada umatnya membayarkan zakat dari harta yang diperolehnya sesuai dengan aturan yang telah Allah tetapkan dalam al-Quran.  Zakat diartikan oleh Al Mawardi dalam kitab Al Hawi sebagai “pengambilan tertentu dari harta  yang tertentu menurut sifat-sifat yang tertentu untuk diberikan kepada golongan tertentu” . Fungsi dan tujuan zakat adalah selain membersihkan harta yang kita miliki juga sebagai bukti ketaatan terhadap Allah dan kepedulian kepada sesama manusia.

Ekonomi berbasis perimbangan zakat inilah sesungguhnya “ Nilai ekonomi ideal di dunia”. Sistim ekonomi yang menghindarkan eksploitasi masif terhadap bumi dan seisinya tanpa etikaseperti yang digambarkan oleh kapitalisme. Juga sebagai sarana percepatan jalur distributisi harta yang berimbang sehingga tercipta apa yang menjadi bagian sistim ekonomi islam yakni keadilan distributif dan keseimbangan. .

PENUTUP

Berdagang dan berbisnis sebagai bagian dari usaha kretifitas manusia dalam menjalankan eksistensinya sebagai Khalifah adalah bagian dari ajaran dan Tauladan Rasulullah SAW. Nabiyullah dan sahabatnya adalah sosok enterpreneur sejati yang menyeimbangkan kesuksesan bisnis secara simultan holistik yakni melalui bisnis beretika dan beribadah. Maka menjadi hal kewajiban yang semestinya bagi Muslim untuk meneladani sosok pengusaha sukses yang dilakukan oleh Nabi dan sahabatnya. Melalui Ramadhan ini, mari kita tingkatkan kreatifitas kita, rasa empati dan solidaritas melalui cara-cara yang telah digambarkan dari sosok yang kita hormati Rasulullah SAW. Aminn….


[1] Ahmad Zainal Abidin, Dasar-dasar Ekonomi Islam , Jakarta : Bulan Bintang 1979 h. 24

[2] Mustafa Edwin Nasution,et al, Pengenalan Esklusif Ekonomi Islam, Jakarta :Kencana, 2006. h.13

[3] Ibrahim, 2002 h. 111-120

[4] Dr Mustafa Ahmad Az-Zarqa Al-Madkhal al Fiqh al-Am, vol. I hal. 467

[5] Syafii antonio, Bank Syariah dari teori ke Praktek : Jakarta , Tazkia, 2001, h. 37

About rindaasytuti

saat ini tercatat sebagai mahasiswa pascasarjana UIN Jakarta. Dan sekaligus pengajar di STAIN Pekalongan View all posts by rindaasytuti

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: