Category Archives: pasar modal

Religiusitas dan perilaku Investasi Investor Muslim Di Pasar Modal

 

Abstract.

One of the motives of human conduct economic activities is the basis of personal interests’ drive, which acts as the driving force and lead people to do everything from the community willing to pay. Needs to encourage economic behavior varies according to the economic system adopted. These differences can not be separated from philosophy, ideology, religion and politics that underlies it.

Religion as an ideology of Muslim life should affect the attitudes and behavior of Muslims in the whole life. Islam through his teachings have set moral and ethical framework as a reference for his role in living human on earth. Ethical investment itself is reflected in the concept of zakah, infak, Sadaqah and Kehalalan includes the investment selection methods and investment instruments.

Previous studies have shown that there is the influence of religiosity of the Muslim work ethic. The rationale of this study wanted to know how far a person affects the behavior of religiosity in the capital market.

To achieve the research objectives, the research methods used dakam this research is qualitative. Where qualitative research does not rely on evidence based on mathematical logic, and statistical methods. This approach was chosen because in qualitative research and is considered realistic given the holistic meaning because in it there are interconnections between one situation to another situation.

These results prove that the religiosity pekalongan Muslim investors who visits based on an understanding of faith, religious practices and knowledge of Islamic economics well enough. This can be understood that the majority of investors believe as Muslims pekalongan pillars of faith in faith, running all the pillars of Islam except the pilgrimage only partially, and learn about the instruments of lawful under sharia-based economy.

But does this really affect the religiosity of investment behavior in the capital market?. Reality on the ground claim that religiosity in the above categories does not automatically push pekalongan Muslim investors will choose the lawful instruments in the capital markets and how to invest as outlined by the values of Islam in the economy,  But more influenced by human rationality and profit motives.

In the selection of investment instruments, investment portfolio development and investment techniques are not affected by the practice of worship and faith. Muslim investors in the sense that religious believers must practice their religion and the Sunnah, to understand the Islamic investment does not automatically affect the way of investment in the capital markets. Selection ribawi instruments, the practice of short selling, margin trading in order to obtain capital gains is still a lot done, because of their motive “getting profit.”    .Another fact, this reseach also obtained the result that Muslim investors aged 50 years and over,  who understand and internalize the Islamic economic-values and  well religiosity , preferring Kehalalan compared with the addition of investment capital value in a way that is prohibited by Islam.

Keywords: religiosity, the behavior of investment, capital markets.

Pendahuluan

Kegiatan berekonomi manusia pada dasarnya sangat dipengaruhi oleh motivasi, kebutuhan hidup dari manusia itu sendiri. Menurut Simon (2000;66-67) teori tingkah laku dalam ekonomi  digantung pada asumsi-asumsi rasionalitas. Disamping itu teori tingkah laku ekonomi juga menjelaskan motivasi-motivasi manusia yang melandasi pengambilan keputusan dalam ekonomi, dan keadaan-keadaan yang secara khusus memotivasi kemunculannya.

Terdapat dua faktor yang mempengaruhi seseorang untuk bertindak. Salah satunya adalah faktor eksternal yaitu lingkungan, baik lingkungan fisik, ekonomi, politik, dan sebagainya. Faktor lingkungan ini sering menjadi faktor yang dominan yang mewarnai perilaku seseorang, termasuk di dalamnya faktor lingkungan yang bercirikan keagamaan.(Notoatmojo:2007, 139)

Agama sebagai sistem keyakinan dapat menjadi bagian inti dari sistem-sistem nilai yang ada dalam kebudayaan dari masyarakat yang bersangkutan. Michael Mayer dalam Monzer Khaf (1995;21) mendefinisikan agama sebagai “Seperangkat kepercayaan atau aturan yang pasti untuk membimbing manusia dalam tindakannya terhadap Tuhan, orang lain, dan terhadap dirinya sendiri.” Definisi tersebut memberikan pemahaman adanya hubungan  manusia dengan Tuhan dan  juga adanya hubungan antara manusia dengan sesamanya yang secara umum meliputi berbagai aspek kehidupan.

Fungsi paling mendasar dan universal dari semua agama adalah bahwa agama memberikan orientasi dan motivasi serta membantu  manusia mengenal sesuatu yang bersifat sakral. Lewat pengalaman beragama (religious experience) yakni penghayatan terhadap Tuhan atau agama yang diyakininya, maka manusia sebagaimana yang dikatakan Joachim Wach (1948;14), memiliki kesanggupan, kemampuan dan kepekaan rasa untuk mengenal, mendekatkan diri bahkan memahami eksistensi sang Ilahi.

Pada zaman keemasan Islam yakni abad ke 7 sampai ke -14, ekonomi dan agama itu menyatuh. Begitupun di Barat, ekonomi berkait dengan agama. Ahli ekonomi eropa adalah pendeta dan sekaligus ahli agama. Pada zaman pertengahan, ekonomi skolastik dikembangkan oleh ahli gereja seperti Thomas Aquinas,Augustin dan lain-lain. Para ekonom kontemporer kembali mencari dan menyadari betapa pentingnya kajian ekonomi yang berkarakter relijius, bermoral dan humanis.

Gunnar Myrdal dalam bukunya Asian Drama menyusun kembali ilmu ekonomi yang berkait dengan nilai kemanusiaan, baik perorangan, masyarakat maupun bangsa. Eugene Lovell juga melakukan pendekatan humanistik dalam mengkaji ilmu-ilmu ekonomi dengan bukunya “Humanomic”. Begitu juga EF Schumacher dalam “Small is Beautiful, Economics as if People mattered. Para ekonom tersebut menyadari sepenuhnya bahwa meniadakan hubungan kajian ekonomi dan nilai-nilai moral, etika dan humanistik adalah suatu kekeliruan besar dan tidak bertanggung jawab dalam menjaga keselamatan manusia dan alam semesta. Kesadaran ini muncul setelah menyaksikan hasil dari model pembangunan sosio-ekonomi yang berasaskan model liberal – kapitalistik dan teori pertumbuhan neo-klasikal, maupun model marxist dan neo-marxist, dimana keduanya mengutamakan kehidupan materialistik hedonis.

Menurut Saefudin (1997:36) tiap aliran agama memiliki pendekatan kajian ekonomi masing-masing sebagaimana penampilannya yang tercermin pada tingkah laku ekonomi manusia. Kajian ilmu ekonomi pada abad pemikiran dewasa ini (the age of reason) mengarah kepada tidak hanya bertolak dari asas kapitalisme dan marxisme, tetapi ada asas lain yang lebih human, yakni ilmu ekonomi yang lebih terandalkan dalam menjaga keselamatan seluruh ummat manusia dan alam semesta. Ekonomi yang memiliki nilai-nilai kebenaran (logic), kebaikan (ethic), dan keindahan (aesthetic). Ekonomi yang dapat membebaskan manusia dari aksi penindasan, penekanan, kemiskinan, kemelaratan dan segala bentuk keterbelakangan, dan dapat meluruskan aksi ekonomi dari karakter yang tidak manusiawi, yakni ketidak adilan, kerakusan dan ketimpangan.

Islam merupakan ajaran yang mengatur kehidupan dalam semua dimensi baik akidah, ibadah, dan semua aspek kehidupan manusia termasuk semua bentuk muamalah, khususnya pada hal-hal yang berkaitan dengan ekonomi.  Dalam kaitan ini,  Ibnu Khaldun dalam ”Mukaddimah” nya menjelaskan tentang prinsip-prinsip ekonomi. Pengetahuan Ibnu Khaldun tentang prinsip-prinsip ekonomi sangat jauh ke depan sejumlah teori dan gagasan pada enam abad yang lalu masih dianggap sebagai pelopor bagi formulasi teori yang lebih modern dan canggih.

Menurut Ibnu Khaldun, syariah mempunyai peranan penting dalam membentuk perilaku masyarakat dalam pembangunan ekonomi. Syariah mengutamakan kerjasama yang menjembatani perbedaan yang ada. Syariah dapat membantu masyarakat menanamkan kualitas kebaikan seperti ketaatan, kejujuran, integritas, kesederhanaan, dan persamaan kebersamaan yang dapat memberikan kontribusi terhadap proses pembangunan, keadilan, saling pengertian, kerjasama, kedamaian, dan keharmonisan sosial serta mengontrol tingkah laku yang dapat membahayakan masyarakat.

Secara lebih rinci Umer Chapra dalam bukunya The Future of Economic menjelaskan peran agama di dalam memberikan cara pandang dunia yang cenderung mempengaruhi keperibadian – yaitu perilaku, gaya hidup, selera dan preferensi manusia dan sikap-sikap terhadap manusia, sumber daya, dan lingkungan. Menurutnya, hal tersebut sangat mempengaruhi sifat, kuantitas dan kualitas kebutuhan materi maupun kebutuhan psikologis dan juga metode pemuasannya. Keyakinan ini dapat mendorong terciptanya keseimbangan antara dorongan material dan spiritual, meningkatkan solidaritas sosial, dan mencegah berkembangnya anomie – suatu kondisi ketiadaan standar moral. Agama menjadi filter moral yang memberikan arti dan tujuan pada penggunaan sumber daya, serta memotivasi mekanisme yang dipelukan  bagi operasi yang efektif.

Ekonomi Islam menurut Chapra sejatinya dapat menjadi kekuatan baru dalam mewarnai kehidupan manusia. Kombinasi dimensi spiritual yang meneduhkan serta rasionalitas yang meyakinkan sangat berpotensi untuk memperbaiki kondisi kehidupan manusia. Dengan itu, kesejahteraan dan kebahagian manusia tidak semata berlaku secara individual tetapi juga yang bersifat sosial. Paradigma ekonomi Islam mencerminkan suatu pandangan dan perilaku yang mencerminkan pencapaian falah. Ada dua sudut pandang yang mendasari paradigma ekonomi Islam, yaitu paradigma berfikir dan berperilaku (behaviour paradigm) dan paradigma umum (grand pattern).

Dalam melakukan kegiatan investasi khususnya dipasar modal,  Islam tidak hanya melihat optimalisasi atau maksimalisasi hasil akhir. Niat awal dan proses yang kemudian dijalani harus tetap di jalur syar’i. Norma Islam secara garis besar mengedepankan kehalalan instrumen dan kemanfaatan dan kemashlahatan termasuk didalamnya larangan Larangan Riba, Gharar, Maisir, insider trading, Margin trading, goreng-menggoreng saham dan spekulasi.

Pada faktanya, Perilaku investasi investor dipasar modal dipengaruhi oleh rasionalitas ekonomi, motivasi dan niat. Namun apakah pemahaman keagamaan (religiusitas) muslim mempengaruhi perilaku investasinya dipasar Modal? Hal ini memerlukan penelitian lebih lanjut dan inilah yang menjadi pokok permasalahan dari penelitian ini. Beberapa Penelitian tentang Pengaruh Religiusitas dan etos kerja /dagang telah banyak dilakukan (Weber: Muhammad Sobary (1995): Lukman Hakin(2008)). Adapun Kesimpulan dari penelitian terdahulu yaitu terdapat pengaruh signifikan antara religiusitas dan etos kerja/ dagang dari umat muslim).

Berlandaskan pada penelitian terdahulu, penelitian ini selanjutnya ingin memotret perilaku investasi investor muslim investment behaviour) Pekalongan di Pasar modal. Pekalongan merupakan kota batik dimana masyarakat ekonomi menengahnya terdiri dari pedagang, pengusaha dan profesional mulai melirik investasi di Pasar modal sebagai sarana pengembangan harta yang dimiliki. Untuk itu menjadi menarik adalah sejauhmana pemahaman keagamaan (religiosity) yang dimiliki oleh investor muslim mendrive perilaku investasinya dipasar modal? Dengan terlebih dahulu memotret religiusitas mereka dengan menggunakan pendekatan Glock dan Start dimana religiusitas memiliki 5 Dimensi yaitu religious belief dimensi ideology, Religious Practice (dimensi praktik keagamaan, religious feeling dimensi pengalaman dan religious knowledge dimensi pengetahuan agama dan religious efect dimensi konsekwensi.  (Roland Robertson, 1992:295)

Metodelogi Penelitian

Untuk mencapai tujuan penelitian, maka metode penelitian yang dipakai dakam penelitian ini adalah kualitatif. Dimana penelitian kualitatif tidak mengandalkan bukti berdasarkan logika matematis, dan metode statistik. Menurut Rusmin Tumanggor penelitian yang bersifat kualitatif adalah upaya untuk mencari kebenaran dalam suatu bidang lewat penemuan kekuatan dan kapasitas dalam setiap konsep. Dalam penelitian kualitatif realitias dipandang dan diberi makna secara holistik karena di dalamnya terdapat saling keterkaitan antara satu situasi dengan situasi lainnya.

Metode ini dipilih karena religiusitas dan perilaku investasi investor muslim masuk dalam wilayah budaya. Penelitian ini menggunakan pendekatan naturalistik karena situasi dilapangan bersifat natural tanpa adanya manipulasi, diatur dengan eksperimen atau tes. Untuk itu juga penelitian ini  bersifat deskriptif analitik. Pendekatan lain yang dipakai adalah pendekatan fenomenologis. Pada tataran ini peneliti sebagai instrumen utama.

Sesuai dengan persoalan yang diteliti, maka sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah jenis data primer dan sekunder .

Data primer adalah data yang diperoleh langsung dari obyek penelitian melalui persepsi dan wawancara dimana responden dipilih dengan menggunakan purposive randam. Sedangkan data sekunder adalah data yang mendukung data primer yang bersal dari berbagai sumber buku, internet, majalah, dokumen, arsip, koran yang berkaitan dengan persoalan yang diteliti

Hasil Penelitian

  1. RELIGIUSITAS INVESTOR MUSLIM PEKALONGAN

Pemahaman kegamaan atau Religiusitas yang dimaksud oleh peneliti disini bukanlah mengacu pada salah satu faham keagamaan seperti NU atau Muhamadiyah, akan tetapi yang dimaksud religiusitas dalam penelitian ini adalah keahlian atau besarnya kepatuhan dan pengabdian terhadap agama dan pemahaman keagamaan seperti pengamalan nilai-nilai agama islam yang dianut seperti sholat, puasa, zakat, haji. Sholat sunnah, membaca al-qur’an, Sikap jujur, adil, amanah, pandangan teologis seperti kepercayaan akan takdir dan hari pembalasan (akhirat), dan pemahaman tentang tuntunan ekonomi secara syariah sebagai pemaknaan terhadap ajaran ekonomi dalam islam.

Indikator religiusitas yang dipakai oleh penulis juga banyak digunakan dalam penelitian sebelumnya sebagaimana Rizma Fitri, dalam penelitiannya tentang Korelasi Religiusitas dengan Etos kerja Pegawai Tetap (studi kasus pegawai di lingkungan IAIN Sunan Ampel) mengukur religiusitas menggunakan teori korelasi produk moment.(Rizma Fitri: 2007:269) Dimana indikator religiusitas yang diambil adalah dimensi akidah, dimensi ibadah, dimensi penghayatan, dimensi ilmu, dan dimensi amal.

Tabel ukuran religiusitas yang diteliti memenuhi unsur –unsur sebagai berikut :

Unsur pertanyaan
No Pribadi Sosial Ekonomi Islam
1 Keyakinan akan Tuhan, rukun iman, rukun islam Sikap bertetangga Arti harta untuk kehidupan
2 Intensitas sholat wajib Pandangan kejujuran  dan kesetiaan dalam rumah tangga Bagaimana mendaptkan harta
3 Frekuensi sholat sunnah Pandangan akan pekerjaan yang digeluti Bagaimana mengelola dan mengembangkan harta
4 Frekuensi membaca al-qur’an Pandangan akan kehalalan dan amanah dari pekerjaan yang digeluti Investasi dari harta yang dimiliki komposisi dan jenis investasi
5 Pelaksanaan zakat Pandangan arti pentingnya keluarga Bagaimana pengetahuan tentang pasar modal
6 Pelaksanaan haji dan umroh Pengenalan dan pemahamannya akan pasar modal syariah
Prosentase zakat dan shodaqah, infak Pemahaman dan pelaksanaan akan etika investasi syariah
7 Pemahaman akan takdir Bagaimana kehalalan investasi yang dilakukan
8 Pemahaman dan keyakinan akan kekuatan akal Tujuan dari investasi di pasar modal
9 Pemahaman dan keyakinan akan hidup sesudah mati Teknik berinvestasi di pasar modal yang dilakukan
10 Pemahaman dan keyakinan akan nasib dan rezeki  sudah ditentukan sebelumnya Pelaksanaan zakat dari keuntungan yang diperoleh di pasar modal

Dari data yang berhasil dikumpulkan peneliti dari responden yang diwawancari dapat disimpulkan bahwasannya secara garis besar investor muslim Pekalongan cukup religius.

Pada tataran keimanan tentang Tuhan, malaikat, Rasul, kitab, hari akhir dan hari pembalasan responden yang diteliti meyakini seratus persen. Unsur-unsur ini ditanyakan oleh peneliti dengan landasan bahwa kepercayaan dan keimanan akan hal-hal diatas akan mempengaruhi cara berfikir yang selanjutnya berimplikasi pada cara berinvestasi.  Bahwasannya Allah selalu melihat, Malaikat selalu mencatat dan setiap manusia akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang telah dilakukannya didunia ini di akhirat nanti dan akan adanya pembalasan atas apa yang telah dilakukan oleh manusia, dapat memberikan stimulus dan sekaligus filter kepada seseorang atas apa yang dilakukannya termasuk maencari kekayaan melalui pasar modal.  Hal ini terlihat dari wawancara dengan responden “D”

“ saya mempercayai dan beriman apa yang ada dalam rukun iman. Saya percaya pada hari akhir karena saya muslim, dan melaksanakan sholat puasa ramadhon, zakat fitrah, infak, shodaqoh, kalo sholat sunnah ya kadang-kadang, baca qur’an sering , tapi memang tidak mengetahui semua maknanya,insya Allah saya  berusaha melaksanakan  ibadah wajib yang sigariskan oleh Islam.”(hasil wawancara)

Akan tetapi kepercayaan akan qadha dan qadar pada responden yang diteliti masih debateble tentang apa yang menjadi ketentuan Allah, apakah semua hal telah ditentukan ataukah hanya hidup dan mati manusia saja yang telah ditentukan. Mayoritas responden meyakini bahwa hanya hidup dan mati saja yang ditentukan, sedangkan rejeki dan nasib manusia berkaitan dengan keduniawian adalah tanggung jawab dan kebebasan manusia atas usahanya.sebagimana jawaban”D” dan “F”(hasil wawancara)

“ Investasi di pasar modal yang saya lakukan  itu untuk meningkatkan derajat hidup dan mengembangkan harta yang saya miliki. Kalo ditanyakan apakah rejeki sudah ditentukan sebelumnya, menurut saya , bahwa manusia diberi kebebasan oleh Allah untuk berusaha semaksimal mungkin. Rejeki itu harus diusahakan. Kalo kita nganggur aja dirumah, mana ada rejekinya ”

“kalo buat saya, Allah itu sudah memberikan kita kekuatan untuk hidup, jadi rejeki itu ditentukan oleh kita sendiri dan kemampuan kita sendiri.kitamesti usaha, kalo gagal itu mungkin usaha kita belum maksimal,”

Pemahaman qadho dan qadar Allah selanjutnya berimplikasi pada pemahaman tentang konsep “kasb” pada terminologi teologis sebagaiman pandangan jabariyah, qadariyah dan mu’tazilah. Dari responden yang diwawancari oleh peneliti, terlihat bahwa mayoritas responden berpandangan bahwa manusia diberi kebebasan berusaha oleh Allah dan manusialah dengan usahanya membuat rejeki datang kepadanya. Terdapat 70 % responden meyakini bahwa rejeki adalah murni usaha manusia akan tetapi seizin Allah. Sedangkan Responden lainnya meyakini bahwa rejeki telah ditakar oleh Tuhan semenjak manusia dilahirkan ke bumi. Tanggapan berbeda dari responden “S”

“ bagi saya saya percaya qadha dan qadar Allah, semua orang itu sudah ditentukan nasibnya. Tapi karena kita tidak tahu ketentuan Allah atas diri kita, maka kita disuruh usaha. Allah sudah menggariskan jalannya secara makro.”

Agama memberikan pandangan yang berbeda tentang harta. Teologi seseorang berpengaruh terhadap etos kerja sebagaimana banyak penelitian menyatakan demikian. (Azhar Arsyad: 1999) Pandangan teologis tentang harta sangat beragam, kaum zuhud memandang harta sebagai lawan yang harus dijauhi dan dibuang dalam keinginan manusia sehingga kemiskinan adalah simbol ketulusan dan kesucian jiwa.

Lain halnya dengan Jabariyyah, kondisi miskin harta adalah musibah yang merupakan ketentuan Allah kepada umatnya dan tidak dapat dihindari, untuk itu kaum jabariyah hanya menyerukan sabar dan Qanaah dan menyerukan orang yang berharta untuk bersedekah dan berzakat.

Pandangan ini tidak memberikan sistim atau formulasi agar kemiskinan dapat ditekan dan dapat memberikan stimulus bagi manusia untuk berusaha memperbaiki kehidupannya.

Berbeda halnya dengan Mu’tazilah dan Qadiyah yang berpandangan bahwa manusia memiliki free will kebebasan berusaha. Faham ini menstimulasi umat untuk berusaha semaksimal mungkin dalam memenuhi kebutuhannya. Dan nasib kaya dan miskin bukanlah hal qadrati yang digariskan oleh Allah, akan tetapi adalah keadaaan yang harus diusahakan oleh manusia.

Paradigma berbeda dalam pemahaman teologis mencoba diperkenalkan oleh engineer yang merupakan sintesa dari pandangan konvensional abad petengahan dengan nama teologi pembebasan. Pemahaman ini mencoba mengikis pemahaman yang terlalu menekankan kepada matafisis yang akhirnya menjauhkan umat pada persoalan yang sesungguhnya dihadapi umat Islam dan mengembangkan relevansi agama dengan problematika faktual yang dihadapi umat.  Dan menjadikan agama sebagai kekuatan spiritual bagi manusia untuk mengangkat derajat hidup ditengah perjuangannya untuk bertahan hidup (survival)

Pandangan kebebasan berusaha dari investor muslim ini bila dilihat dari umur responden ternyata reponden yang berumur kurang dari 50 tahun memiliki konsep sebagaimana qadariyah. Sedangkan responden yang berusia diatas lima puluh tahun terlihat masih banyak dipengaruhi oleh pandangan jabariyah namun tidak secara penuh.

Selanjutnya Religiusitas di dalam penelitian ini diteliti dengan menggunakan pertanyaan yang memberikan gambaran tentang pelaksanaan ajaran agama Islam melalui pelaksanaan rukun Islam dan ibadah sunnah.

Tabel  2 .Indikator Religiusitas investor Muslim Pekalongan

NO Kategori Unsur Prosentase Keterangan
1 Pelaksanaan ibadah wajib Pelaksanaan sholat lima waktu 100 Melakukan penuh/ selalu dilakukan
2 Pelaksanaan puasa wajib 100 Melakukan penuh/ selalu dilakukan
3 Pelaksanaan zakat fitrah 100 Melakukan penuh/ selalu dilakukan
4 Pelaksanaan zakat mal 100 Melakukan penuh/ selalu dilakukan
5 Pelaksanaan ibadah sunnah Pelaksanaan solat sunnah 50 Kadang/kadang
6 Pelaksanaan sholat diawal waktu 50 Kadang/kadang
7 Pelaksanaan shodaqah, infak 100 Melakukan penuh/ selalu dilakukan
8 Pelaksanaan puasa sunnah 50 Kadang/kadang

Dari data yang diperoleh peneliti dari wawancara, terlihat investor muslim yang bermain dalam pasar modal melaksanakan ibadah wajib (sholat, puasa, zakat) 100 %, Ibadah Sunnah (sholat sunnah, puasa sunnah, baca Alqur’an ) 50 % dan keimanan 100 %. Seseorang yang religius akan berusaha melakukan apa yang diperintahkan oleh ajaran islam dan menjauhi larangan Allah. Penambahan pelaksanaan ibadah sunnah diyakini peneliti dapat mengindikasikan bahwa kadar religiusitas seseorang lebih daripada orang yang hanya melakukan ibadah wajib saja.

Seorang Responden  berinesial “F”  merupakan profesional muda yang sangat familiar terhadap pasar modal menyatakan bahwa

“ saya selalu melakukan ibadah wajib, kalo sunnah ya kadang-kadang. Sejujurnya selama ini saya menjalankan puasa sunnah atau sholat tahajud kalo ada hajat atau keinginan yang ingin di kabulkan oleh Allah. Zakat saya tunaikan setahun sekali maal dan fitrah, kalo shodaqoh ya kadang-kadang tapi bisa dipastikan dalam seminggu saya melakukannya, prosentasenya gak tau, haji saya belum tapi kalo umroh saya sudah.”

Berbeda halnya dengan investor berinisial”S” beliau merupakan pengusaha dan profesional “Dosen ekonomi’ di salah satu perguruan tinggi menyatakan bahwasannya ibadah wajib yang selalu dilakukannya memberikan impact kepada perilakunya dalam berekonomi. Terlebih bila nilai ibadah tersebut diinternalisasikan dengan sungguh-sungguh ke dalam kehidupan. Namun menurutnya pengamalan ibadah seseorang dalam artian normatif tidak menjadi benchmarking positif terhadap perilakunya, itu terjadi pada kebanyakan teman-teman atau orang diekelilingnya. Untuk itu yang terpenting adalah pemaknaan terhadap ibadah itu sendiri.

Pada dasarnya setiap agama menganjurkan pemeluknya untuk melakukan ajaran agamanya secara rutin dan hal tersebut akan menginternalisasi dalam pandangan hidup, pemikran dan tindakannya.

“ Sesungguhnya sholat itu mencegah perbuatan keji dan mungkar”

Internalisasi nilai-nilai ibadah yang dilakukan oleh manusia, dari responden yang diteliti berpendapat bahwa nilai tersebut akan masuk dan terejawantahkan oleh dalam prilaku bila memang ibadah tersebut dilakukan dengan baik dan meresap dalam hati dan diri manusia. Sebagaimana perkataan responden “S”

“ memang idealnya kalo kita melakukan ibadah sholat dan ibadah lainnya secara khusuk mungkin akan terlihat dalam perbuatan. Tapi toh pada faktanya kebanyakan kita melakukan ibadah hanya mengugurkan kewajiban , dan banyak orang yang telah melakukan rukun islam semuanya hingga haji toh kelakuannya masih korupsi dan melakukan hal-hal yang dilarang agama.”

Kenyataan ini juga diamini oleh Amsyari sebagaimana yang dikutip oleh chablullah dalam disertasinya. bahwasannya ajaran spiritualisasi agama yang hanya membatasi Islam hanya untuk ritual dan itupun secara pelan-pelan diabaikan pelaksanaanya ( shalatpun makin jarang, berdoa kalo ada kesulitan, puasa kalau tidak sakit maag) (Chabullullah Wibisonio ,2002:172)s

Akan tetapi, dalam penelitian Chablullah Wibisono pula diungkapkan bahwasannya tidak selalu terdapat pengaruh signifikan positif antara aqidah dengan kinerja yang religius. Dengan kekokohan aqidah di dalam jiwa manusia akan mengangkatnya dari materialisme yang rendah dan mengarahkannya kepada kebaikan , kemuliaan, kebajikan, ketentraman yang tercermin pada kinerja. (Chabullullah Wibisonio :2002)

  1. HUBUNGAN RELIGIUSITAS INVESTOR MUSLIM TERHADAP PERILAKU INVESTASI DI PASAR MODAL

Masyarakat Pekalongan yang notabene pengusaha dan pedagang merupakan masyarakat yang sangat plural dan adaptif terhadap perubahan. Kondisi perekonomian yang menyebabkan kelesuan dalam bidang perdagangan, menstimulasi masyarakat kelas menengah atas untuk mencari alternatif investasi guna memutar kakayaan yang dimilikinya.

Berinvestasi merupakan salah satu kegiatan yang sangat penting bagi kehidupan manusia dan merupakan cara untuk meningkatkan standar hidup keluarga yang lebih baik di masa depan. Investasi juga bermanfaat untuk menghadapi risiko-risiko yang disebabkan karena suatu musibah yang mungkin terjadi. Masyarakat yang tidak siap dalam menghadapi risiko, tidak jarang harus menjual aset-aset produktif yang dimanfaatkan untuk mencari nafkah pada saat mengalami suatu musibah yang memerlukan dana yang besar. Sementara dalam jumlah yang signifikan, Investasi merupakan salah satu sumber dana yang dapat dipergunakan untuk memajukan usaha-usaha produktif.

Berinvestasi sebagai upaya manusia di dalam memenuhi kebutuhannya sangat dipengaruhi oleh motivasi atau motif yang melatar belakanginya. Perilaku Investasi adalah segala tindakan manusia yang berkaitan dengan kegiatan investasi baik karena dorongan organisme serta hasrat-hasrat psikologinya maupun karena pengaruh masyarakat atau kebudayaannya.

Bukanlah hal baru bagi masyakarat pemilik capital besar Pekalongan untuk berinvestasi di Pasar Modal bahkan sebelum didirikannya PIPM (Pusat informasi Pasar Modal) di Pekalongan. Anak-anak pedagang yang sukses yang menimba ilmu di luar kota, memberikan pengetahuan baru bagi keluarganya untuk mencoba berinvestasi dibidang lain selain batik yakni melalui saham, reksadana dan obligasi ataupun unit link. Disamping itu polarisasi dengan masyarakat kota terutama Jakarta, Bali dan kota besar lainnya melalui kontak perdagangan, membuat pengetahuan masyarakat atas Pekalongan terbuka terhadap kemungkinan untuk mensplit dan membentuk portfolio investasi alternatif guna meningkatkan kemakmuran hidup dan memperbesar kapital yang dimiliki.

Investor muslim pekalongan melakukan perdagangan di pasar modal dengan cara melalui broker perusahaan investasi yang ada di Pekalongan dan sekitarnya atau kota lain seperti Jakarta. Saat ini di pekalongan  terdapat 3 perusahaan sekuritas dan memiliki investor 186. Setiap bulan terlihat perkembangan transaksi perdagangan di pasar modal kota pekalongan meningkat. Tren peningkat volume perdagangan ini dapat mengisyaratkan bahwasannya masyarakat pekalongan semakin aware terhadap transaksi perdagangan pasar modal disamping investasi dalam perdagangan lainnya seperti batik. ( lihat tabel). Disamping itu Pekalongan dari data yang ada memiliki volume nasabah tertinggi dibandingkan kota –kota disekitarnya . maka kemudian di dirikan PIPM di Pekalongan yang mana organisasi ini bertujuan untuk mengedukasi masyarakat tentang transaksi perdagangan di Pasar modal sekaligus memberikan tempat bagai sekuritas untuk membuka ruang transaksi di kantor ini.

Dalam ekonomi islam dikenal pasar modal syariah dan instrumen investasi syariah berupa saham dan obligasi. Dimana salah satu instrumen investasi halal adalah saham-saham yang tergabung Jakarta Islamic Index. Dari beberapa responden yang peneliti ajak wawancara di dapatkan fakta bahwa  beberapa responden mengetahui dengan baik adanya pasar modal syariah dan instrumen syariah di pasar modal.

Lalu apakah keagamaan responden berpengaruh pada perilaku transaksi  investor dipasar modal , mulai dari teknik bertransaksi dan pemilihan instrumen investasi? Benarkan secara otomatis investor muslim akan memilih instrumen syariah saja dalam portfolio investasinya?

Berkaitan dengan perilaku investasi di pasar modal, Praktik dan aktivitas keagamaan (religiusitas) investor tidak seratus persen mendorongnya untuk memilih instrumen yang digariskan halal (saham JII, obligasi halal) yang ada di pasar modal. Terlihat dalam kutipan penyartaan salah satu responden “ D” berikut:

“ saya tahu dan paham ada saham halal JII, namun pemilihan saham yang saya investasikan itu berdasarkan pertimbangan untung saja, tidak mesti yang ada dalam JII. Saya kadang beli saham lembaga keuangan bank konvensional, selama menguntungkan. Saya melakukan investasi dalam pasar modal itu kan untuk cari untung , jadi saya akan memilih saham-saham yang mendatangkan keuntungan. Dan kalo pertimbangan pemilihan saham ya ikut saja pandangan pengamat, tren , saya tidak terlalu ribet dengan fundamental perusahaan.”

Dari pernyataan dia atas terlihat bahwa tidak secara signifikan perilaku keagamaan yang dimiliki investor menuntunnya untuk memilih saham-saham yang halal secara syariah, melainkan lebih banyak di dasarkan pada motif keuntungan dan rasionalitas ekonomi. Padahal Investor secara benar mengetahui ada saham-saham halal, dan mengabaikan cara halal berinvestasi.

Pengamalan keagamaan secara ritual semata tidak dapat mengukur religiusitas seseorang, karena religiusitas seseorang adalah pemaknaan yang dalam hakikat ibadah yang tercermin dalam sikap, tingkah laku dalam berbagai sendi kehidupan. Kesan ini peneliti dapatkan dari jawaban dari responden yang termasuk religius dan memahami dengan baik ekonomi islam. Menurutnya, kadar religiusitas seseorang tidak dapat dihitung berdasarkan pengamalan ibadah saja, akan tetapi pada internalisasi nilai-nilai ibadah ke dalam diri dan tercermin dalam tingkah laku.

“dulu saya ya memilih saham hanya menggunakan perspektif untung saja, tapi seiring dengan ilmu ekonomi islam yang miliki dan usia serta aktivitas keagamaan saya lebih memilih untuk mendasarkan langkah saya sesuai dengan ekonomi islam. Religiusitas seseorang tidah bisa diukur dari tingkat  praktek ibadah ritual saja, buktinya teman-teman saya juga sampai saat ini masih banyak yang tidak mengindahkan nilai-nilai ekonomi islam dalm investasinya di pasar modal, padahal mereka tahu dan mereka menjalankan ibadah secara baik. Buat saya, religiusitas ini lebih kepemaknaan nilai- nilai islam dengan benar dan sadar ihlas menjalankan dalam setiap sendi kehidupan termasuk dalam pasar modal”

Masuk pada makna investasi di sektor keuangan memang dekat dengan motivasi spekulasi. Data menyebutkan hampir mayoritas investor indonesia bertransaksi di pasar modal dengan spekulasi, dimana mereka menggunakan analisis fundamental perusahaan dalam menilai saham, akan tetapi mengikuti analisa teknikal semata berdasarkan chart dan pengamatan tren.

Selain pemilihan instrumen investasi yang harus halal, Islam melarang transaksi di pasar modal dengan cara short selling , margin trading , insider trading,  spekulasi dan ribawi. Hal ini disadari dan diketahui oleh salah satu responden investor. Dalam mengeliminir agar investasinya tidak jatuh dalam spekulasi, salah satu investor berinisial “S” , adalah dengan berinvestasi di pasar modal dalam jangka panjang, artinya bahwa terdapat jangka waktu cukup lama dalam memegang saham yang dimiliki. Dan pemilihan saham di dasarkan pada fundamental perusahaan bukan sekedar menggunakan analisis tehnikal semata. Apa yang dilakukannya ini akan menghindarkan dirinya dari gharar dan spekulasi dan menjamin kehalalan investasinya di pasar modal. Hal ini sesuai dengan pernyataan bapak “S”

“ dalam bertransaksi di pasar modal, dalam pemilihan saham saya lebih menggunakan tehnik fundamental, saya tidak tergiur untuk bermain shortselling untuk meraih capital gain, karena buat saya itu melanggar yang diajarkan oleh islam. Saya lebih suka memegang saham dalam waktu yang cukup lama, artinya selama saya melihat perusahaan itu punya fundamental yang baik, ketika saham perusahaan itu turun saat tertentu belum tentu saya akan menjualnya, karena saya yakin saham perusahaan yang saya pilih akan mendatangkan keuntungan. Tapi kalo melihat temen-temen saya yang lain, banyak pengusaha muslim pekaloangan yang bermain kok di pasar modal dan mereka mengetahui saham syariah, tapi ya.. mereka masih saja memilih saham-saham lain yang menguntungkan .. yang pentingkan saya sudah sering mengingatkan ,, terserah kepada mereka..”

Transaksi di pasar modal memang sarat dengan nuasa spekulasi dan menjadi sekat yang sangat tipis antara transaksi spekulatif dan investasi beberapa ciri perbedaan antara investasi dan spekulasi adalah :

Pertama, Investor mendasari keputusan investasinya pada informasi yang terpercaya tentang faktor-faktor fundamental ekonomi dan perusahaan itu sendiri melalui kajian yang seksama. Sementara spekulan bertujuan untuk mendapatkan gain yang biasanya dilakukan dengaupaya goreng menggoreng saham.

Kedua, spekulasi sesungguhnya bukan merupakan investasi, meskipun di antara keduanya ada kemiripan. Perbedaan yang sangat mendasar di antara keduanya terletak pada ’spirit’ yang menjiwainya, bukan pada bentuknya. Para spekulan membeli sekuritas untuk mendapatkan keuntungan dengan menjualnya kembali secara (short term). Sedangkan para investor membeli sekuritas dengan tujuan untuk berpartisipasi secara langsung dalam bisnis yang lazimnya bersifat long term.

Ketiga, Spekulasi  adalah kegiatan game of chance sedangkan bisnis adalah game of skill. Seorang dianggap melakukan kegiatan spekulatif apabila ia ditenggarai memiliki motif memanfaatkan ketidak pastian tersebut untuk keuntungan jangka pendek. Dengan karakteristik tersebut, maka investor yang terjun di pasar perdana dengan motivasi mendapatkan capital gain semata-mata ketika saham dilepas di pasar sekunder, bisa masuk ke dalam golongan spekulan

Keempat, spekulasi telah meningkatkan unearned income bagi sekelompok orang dalam masyarakat, tanpa mereka memberikan kontribusi apapun, baik yang bersifat positif maupun produktif. Bahkan, mereka telah mengambil keuntungan di atas biaya masyarakat, yang bagaimanapun juga sangat sulit untuk bisa dibenarkan secara ekonomi,sosial,maupun,moral.
Kelima, spekulasi adalah outcome dari sikap mental ‘ingin cepat kaya’. Jika seseorang telah terjebak pada sikap mental ini, maka ia akan berusaha dengan menghalalkan segala macam cara tanpa mempedulikan rambu-rambu agama dan etika.Karena itu, ajaran Islam secara tegas melarang tindakan spekulasi ini, sebab secara diametral bertentangan dengan nilai-nilai illahiyah dan insaniyyah.

Menurut Syafi’i Antonio, bertransaksi atau jual beli saham memang mengandung unsur spekulatif, tetapi dapat diminimalisir melalui disclosure, menghindari insider trading, short selling, dan intervensi hak tertentu. Sementara berfluktuasinya harga saham tidak menjadi masalah karena dapat disamakan dengan jual beli rumah, mobil, emas yang harganya juga berfluktuasi.(Syafi’’I Antonio; 2002)

Selain spekulasi ada unsur-unsur lain yang mesti diwaspadai seperti risiko, ketidak pastian  atau gharar di pasar modal harus dibedakan secara jelas. Berkaitan dengan gharar, Vogel dan Hayes  menyatakan bahwa gharar sama dengan riba. Vander Heidjen mengatakan ketidak pastian (uncertainty) di masa depan digolongkan menjadi tiga yaitu risk, structural uncertainty dan unkownables. Risk itu memiliki preseden historis dan dapat dilakukan estimasi probabilita untuk hasil yang mungkin muncul.

Menurut Achsien transaksi gharar timbul karena dua sebab, yaitu kurangnya informasi (pengetahuan) sehingga tidak memiliki skill, dan adanya objek. (Farida: 2003: 24) Dengan demikian risiko pada dasarnya tidak dapat dihindari, akan tetapi risiko yang diperbolehkan harus melibatkan pengetahuan – sebagai game of skill, bukan game of chance. Konsekuensi logisnya harus memahami dan menguasai manajemen risiko.

Menurut Chapra, untuk mencegah agar spekulasi tidak berkembang, seorang investor hendaknya mengambil saham yang telah dibeli, melakukan pembayaran secara penuh saat serah terima dan niat memegang saham untuk periode yang tidak terbatas. Dengan perilaku tersebut di atas maka akan terbentuk pasar modal yang mengedepankan perilaku rasional dalam harga saham sesuai dengan tingkat deviden dan ekspektasi yang wajar. Sebab kenyataan yang ada ketidakwajaran dalam fluktuasi harga disebabkan spekulasi yang didukung oleh margin trading.

Seorang responden ”F” dan ”D” dalam praktek keagamaannya selalu melakukan sholat wajib dan terkadang sholat sunnah. Dalam pandangan peneliti investor ini cukup religius dimana responden melaksanakan rukun islam hampir secara penuh kecuali haji, dan memiliki pengetahuan tentang pasar modal syariah dan ekonomi Islam cukup baik, akan tetapi dalam tindakannya di pasar modal terlihat motif keuntungan masih mendominasi, hal ini terlihat dari pernyataannya sebagai berikut:

” saya tahu dengan baik produk syariah dan  ekonomi islam, tapi dalam penyusunan portfolio investasi saya, saya tidak selalu mengacu pada JII, saya pernah pilih saham lembaga keuangan konvensional dan perusahaan lain. Dan untuk menghindari kerugian saya kadang melakukan hedging, short selling, yang pasti kan saya ingin menghindari kerugian dan memaksimalkan untung.”

” yang saya tahu produk syariah adalah saham JII,dan mengerti dan faham transaksi halal yang digariskan, yaitu tidak boleh melakkukan short selling, margin trading dan hanya menggunakan saham syariah, tapi, kadang-kadang saya juga menyusun portfolio investasi saya pada saham-saham diluar JII. Dan saya menggunakan teknik fundamental untuk pemilihan saham dan tehnikal untuk bertransaksi harian. Kalo lama atau tidaknya memagang saham, ya tergantung, kadang seminggu atau 3 hari, seiring dengan itu saya tidak menggunakan margin trading, kalo short selling kadang-kadang.”(wawncara dengan responden)

Bertransaksi di sektor keuangan memiliki resiko yang lebih besar dibandingkan dengan transaksi dibidang rril.  Hal ini sesuai dengan tingkat imbal hasil yang tinggi (NO  risk No Gain). Mohammad Ali Elgari secara lebih spesifik memahami resiko sebagai  Al-kharaju bi al-dhaman diartikan sebagai hak atas pendapatan adalah berdasarkan tanggung jawab untuk menanggung kerugian (entitlement to revenue is based on corresponding liability for bearing loss). Al-ghunmu bi al-gurtm adalah sebagai keuntungan terkait dengan risiko kerugian (profit is linked loss)( Mohammad Ali Elghari: 2003: 12)

Risiko menurut Ibn Taymiyyah (7728H/1328) dalam Suwailem menyatakan sebagai berikut:

Risk fall in two categories; commercial risk where one would buy a commodity in order to sell it for profit, and rely on Allah for that. Thisk risk is necessary for merchant, and although one might occasionally lose, but this is the nature of commerce. The other type of risk is that of gambling, which impliies eating wealth for nothing; this what Allah say and his Messenger (peace be upon him) have probihated. ( Sami al Suwailem; 1999: 55)

Dalam memberikan patokan sejauh mana risiko yang dapat ditoleransi seseorang dalam transaksi invesatsi syariah para ahli fiqh memberikan beberapa syarat sehingga resiko tersebut dapat ditoleransi. Menurut suwailem ada tiga risiko yang dapat dikategorikan sebagai tolerable risk:

  1. Dapat diabaikan
  2. Tidak dapat dihindarkan
  3. Tidak diinginkan dengan sengaja

Syarat pertama dapat mengindikasikan bahwa tingkat kemungkinan dari kegagalan sangatlah kecil sehingga potensi dari kegagalan sangat terbatas. Semakin besar potensi kegagalan maka tingkat kepastian akan keberhasilan menjadi menurun. Syarat kedua mengindikasikan bahwa tingkat penambahan dari suatu aktifitas transaksi tidak dapat diwujudkan tanpa adanya kesiapan untuk menanggung risiko. Sedangkan syarat ketiga mengisyaratkan bahwa tujuan dari suatu transaksi ekonomi adalah normal untuk menciptakan nilai tambah, bukan untuk menanggung risiko, sehingga risiko bukan suatu yang menjadi keinginan dari suatu transaksi keuangan dan investasi.

Peneliti selanjutnya mencoba mengintegrasikan apakah keuntungan yang diperoleh dari pasar modal dizakati tersendiri?Zakat perusahaan adalah disamakan dengan zakat niaga 2,5 %, demikian pula zakat saham. Dari jawaban yang didapatkan semua responden menjawab bahwa mereka tidak memisahkan zakat dari saham atau transaksi  yang mereka lakukan dipasar modal, akan tetapi mereka mengeluarkannya bercampur dengan harta yang lain dengan porsi 2,5 %.

Dari jawaban responden mengenai pengamalan keagamaan, mayoritas investor muslim dalam penelitian cukup religius dan memiliki pengetahuan tentang investasi dan pasar modal syariah cukup baik. Berdasarkan wawancara dengan sumber data,  juga didapatkan pengetahuan bagi peneliti, bahwa investor muslim pekalongan cukup memiliki pengetahuan tentang pasar modal syariah dan instrumen investasi yang halal menrut ketentuan DSN. Namun dalam bertransaksi “motif keuntungan” masih menjadi pijakan pertama dan terkadang menutupi ketaatan mereka untuk memilih jalur yang sesuai dengan syariah, walaupun praktek religius mereka cukup baik.

Fakta ini dapat diambil nilai bahwa dalam berbisnis dan bertransaksi ekonomi, kesalehan seseorang dalam ibadah tidak dapat menjadi garansi atas kesalehannya dalam berbisnis.

Agama akan berpengaruh secara signifikan bilamana nilai-nilai ibadah ritualdan nilai keimanan benar-benar terinternalisasi dalam hati dan keniatan seseorang untuk menjadi hamba yang saleh secara kaffah. Dalam penelitian lain juga dijelaskan bahwa bukan agama yang menjadi dasar seseorang memilih transaksi di bank syariah akan tetapi lebih motif ekonomi. Disamping itu kemapanan ekonomidan kemapanan usia lah yang ternyata banyak nasabah memilih bank syariah.

Disamping itu hasil penelitian ini juga mandapatkan kenyataan yang sama sebagaimana Penelitian guntur subadja, menyatakan bahwa nasabah yang usianya diatas 45 tahun akan lebih memilih jalur syariah dibandingkan dengan nasabah yang usianya dibawah 45 tahun. Artinya usia seseorang yang sejalan dengan kematangan religiusitas dan kemapanan ekonomi, akan lebih cenderung tidak terlalu melihat keuntungan material semata juga keamanan “spiritual”. (Guntur Subagdja: 2005),

Disisi lain pendidikan juga mempunyai peranan penting dalam pemilihan instrumen investasi syariah, semakin banyak informasi yang diketahui tentang instrumen investasi berbasis syariah maka peluang investor memilih instrumen investasi syariah lebih besar. (Amat Yunus: 2004)

Penelitian Else Fernanda memberikan penegasan pada kesimpulan-kesimpulan sebelumnya dengan menambahkan bahwa pengetahuan investor Raksa dana syariah lebih tinggi dibandingkan dengan investor reksa dana konvensional.(Else Fernanda:, 2005)

KESIMPULAN

Dari keseluruhan pembahasan penelitian ini menyimpulkan beberapa hal sebagai berikut:

  1. Pemahaman keagamaan dan keimanan yang dimiliki oleh investor muslim pekalongan cukup baik, artinya secara garis besar mereka mempercayai rukun iman dan memandang bahwa manusia harus berusaha dengan dirinya sendiri untuk menentukan nasibnya. Pengaruh faham rasionalitas sebagaimana pemahaman qadariyah banyak dimiliki oleh para investor. Investor pekalongan cukup religius, hal ini terlihat dari mayoritas melaksanakan ibadah wajib, puasa, dan mengeluarkan zakat dari harta yang dimiliki termasuk keuntungan yang diperoleh dari investasinya di pasar modal.

Investor muslim pekalongan yang bermain di pasar modal, merupakan investor kelas menengah yang telah memberikan porsi tersendiri dari harta yang dimiliki, sehingga lepas dari kegiatan  atau usaha riil yang telah digeluti sebelumnya. Investasi di pasar modal merupakan alternatif pengembangan harta yang dipilih oleh investor muslim yang mayoritas pedagang atau pengusaha. Investasi di pasar modal dapat menjadi alternatif usaha yang dapat mendukung keberlangsungan harta ketika usaha riil yang mereka geluti sedang merosot.

  1. Praktek keagamaan (ibadah ritual) yang dilakukan oleh seseorang ternyata tidak selalu sebanding dengan perilaku investasinya di pasar modal. Pelaksanaan ibadah ritual seseorang tidak bisa menjamin atas perilaku ekonomi terutama investasi seseorang di pasar modal akan sesuai dengan konsep halal ekonomi islam. Motif mencari keuntungan dan rasionalitas ekonomi merupakan motif terbesar yang dapat mempengaruhi perilaku investasi investor.
  2. Hasil penelitian ini berbeda dengan penelitian sebelumnya (Lukman Hakin, Azhar Arsyad) yang menyimpulkan bahwasannya religiusitas berpengaruh positif pada etos kerja.

DAFTAR PUSTAKA

Abd. Ghafar b. Ismail dan Moh. Sahruddin B. Sakharani Aman “ The conditional CAPM and Cross Sectional Evidence of Return and Beta For Islamic Unit Trust in Malaysia.”, IIUM Journal Economic management vol 11 N0.1 2003

Adam Kuper dan Jessica Kuper, Ensiklopedi Ilmu-Ilmu Sosial, (terj), Jakarta: Grafindo Persada, 2000

Adam Nathif Abdul kadeer, “Islamic Bonds; Your Guide to Issuing  Structurinch and Investing sukuks”, Euromoney Books, London, 2003.

Adiwarman A Karim, Ilmu ekonomi Islam; Bagaimana seharusnya?, Ulasan atas buku, The Future of Economic; An Islamic Perspective, Landscape Baru Perekonomian Masa Depan, Jakarta, SEBI, 2001

Adiwarman Karim, Ekonomi Mikro Islami, The International Institute of Islamic Thought Indonesia, Jakarta, 2002

Abraham H. Maslow, Motivasi dan Kepribadian ; Teori Motivasi dengan Pendekatan hierarki Kebutuhan Manusia, terj. PT. Pustaka Binaman Pressindo, 1994

Afzalur Rahman, Doktrin Ekonomi Islam jilid 1, Yogyakarta: Dana Bhakti Wakaf, 1995

Agustianto, Etika Produksi dalam Islam, Niriah.com, Oktober, 2008

Ahmad Zaenal Abidin, Hubungan Religiusitas dan Tingkah Laku Prososial Mahasiswa Undip, Jakarta : Fakultas  Psikologi  UI, 2000

Ajat Sudrajat, Etika Protestan dan Kapitalisme Barat Relevansinya dengan Islam di Indonesia, Jakarta : Bumi Aksara 1994

Anthony Giddens , Sociology of Religion , Cambridge: Polity Press,1989

AM.Saefudin, Filsafat, Nilai Dasar, Nilai Instrumental dan Fungsionalisasi Konsep Ekonomi Islam, JKTTI-No. 1-I/Des 1997-Feb 1998

Azhar Arsyad,  Pemahaman Teologi dan Implikasinya terhadap manajemen kinerja : Tinjauan terhadap Dimensi Budaya Kerja pada lembaga-lembaga Pendidikan Keagamaan Negeri di Sulawesi Selatan, Disertasi IAIN,  Jakarta : Perpustakaan PPS IAIN Jakarta, 1999

Aziz Budi Setiawan, Obligasi (Suukok) Syariah: Alternatif Pendanaan Korporasi,artikel,2004 diunduh tanggal 22Juli 2009

Bukhari Ibra, Artikel, Tantangan Investasi Syariah di Pasar Modal, http//Bukhari Ibra.wordpress.com

Chablulah Wibisono, Pengaruh motivasi Terhadap kinerja Karyawan Sub Sektor Industri Manufaktur di BATAMINDO Batam, Disertasi Surabaya: Program Pasca Sarjana Universitas Airlangga, 2002

Clifford Geertz, Perubahan Sosial dan Modernisasi ekonomi di Dua kota di Indonesia dalam Taufiq Abdullah ed, Agama, Etos Kerja dan Perkembangan ekonomi,  Jakarta : LP3ES, 1986

Dawam Raharjo, Manifestasi Nilai-Nilai Islam dalam Kegiatan Ekonomi dan Kewiraswastaan, Equilibrium; Jurnal Ekonomi & Kemasyarakatan, Vol. 2 No.2 januari – April 2006

Dawam Raharjo, “Islam dan Transformasi social-Ekonomi, Yogyakarta, Lembaga Sosial, Agama dan Filsafat (LSAF), cetakan I

Dewan Syariah Nasional MUI-Bank Indonesia, Himpunan Fatwa DSN MUI, Edisi ke-3, 2006

Doni Rekro Harijani, Etos Kerja Perempuan Desa: Realisasi Kemandirian dan Produktivitas Ekonomi, Yogyakarta : Philosophy Press, 2001

Farida Rahmawati, Analisis Portfolio Saham Syariah Pada BEJ, tesis, Jakarta,: PSTTI-UI,  2003

Fauzan Saleh, Membangun Kesalehan individu dan Sosial untuk kesejahteraaan Yang humanis dalam buku Agama sebagai Kritik Sosial di tengah Arus Kapitalisme Global ed Asror Yusuf ,Yogyakarta: IRCISOD, 2006

Frank E vogel dan Samuel Hayes, Islamic Law and Finance; Religion, Risk, and Return, Khwer Law International, Netherlands, 1998

Frans Magnis Suseno, Etika Umum, Masalah-masalah Pokok Filsafat Moral, Yogyakarta: Kanisius , 1979

Harvey Cox, The Sacular City, New York, MacMillan, 1978.

Hulwati, Transaksi Saham di pasar Modal Indonesia; Perspektif Hukum Islam, UII Press, Yogyakarta, 2001

Ibrahim Warde, Islamic Finance in The Global Economy, Eidenburgh University Press, 2001

Joachim Wach, Sociology of Religion , The University of Chicago Press, 1948

Koentjaraningrat et, al, Kamus Istilah Antropologi, Jakarta : Pusat Bahasa Diknas, 2003.

Koentjaraningrat Pengantar Antropologi Jilid I,  Jakarta : Rineka Cipta , 1996

Leong G. Sciffman & Leslie Lazar Kanuk, Consumer Behaviour, terj Prentice Hall, 1999

Lukman Al Hakim, Religiusitas dan Etos Kerja Dalam Peningkatan Ekonomi Umat ( Studi pada Masyarakat Sasak Lombok Nusa Tenggara Barat). Disertasi IAIN Jakarta : Perpustakaan PPS IAIN Jakarta, 2008

Masyhuri, Teori Ekonomi dalam Islam, Yogyakarta, Kreasi Wacana,2005

Mahmud syaltut, Al-Islam Aqidah wa Al-Syariah ,mesir: dar Al-Qalam, 1966

Milton Rokeach, Belief, Attitude and Values ,San Fransisco: Jossey Bas, inc 1969

Mohammad Sobary, Kesalehan dan Tingkah Laku ekonomi, penerjemah Hartono Hadikusumo Yogyakarta : Bentang Budaya , 1995

Mozer Kahf, Ekonomi Islam: Telaah Analitik Terhadap Fungsi Sistem Ekonomi Islam penerjemah Machnun Husein Yogyakarta : PT Tiara Wacana 1995

M. Umer Chapra, The Future of Economics : An Islamic Perspective,(terj), Masa Depan Ilmu Ekonomi: Sebuah Tinjauan Islam: Jakarta : Tazkia Cendikia, 2001

M Yusuf Asry, Pemahaman Keagamaan dan Etos Kerja Ekonomi dalam masyarakat Islam di kabupaten Bantul Yogyakarta, jurnal multikultural dan multireligius harmoni, vo VII no.28 , 2008

Mustafa Edwin Nasution,et al, Pengenalan Esklusif Ekonomi Islam, Jakarta :Kencana, 2006

Munif Suratmaputra, Filsafat Hukum Islam Al-Ghazali; Maslahah Mursalah dan Relevansinya dengan Pembaharuan Hukum Islam, Jakarta : Pustaka Firdaus, 2002

Munrokhim Misanam dan Lili Liana, Bunga Bank , Bagi Hasil dan Religiusitas : Suatu Investigasi Loyalitas  Nasabah Terhadap Perbankan Syariah , Jurnal Sinergi Vol I , 2007

M. Umer Chapra, Islam dan Tantangan Ekonomi ; Islamisasi Ekonomi Kontemporer, Risalah Gusti, 1999

M. Syafi’’I Antonio, Bank Syariah dari Teori ke Praktek, Gema Insani press, Jakarta, 2002

Mohammad Obaidullah, Islamic Risk Management; Toward Greater ethics and Efficiency”, International Journal of Islamic Financial Services, Vol. 3, no. 4

Mohammad Ali Elghari, “Credit Risk in  Islamic Banking and Finance,” Jurnal of Economic Studies, vol. 10, no.2, Maret 2003

Notoatmodjo, Konsep Perilaku; Pengertian Perilaku, Bentuk Perilaku, dan Domain  Perilaku, ( artiket) 2007.

Quraish Shihab, Wawasan Al-Qur’an; Tafsir Maudhu’I atas pelbagai persoalan Umat, Jakarta; Mizan, 1997

PT.BEI,, Buku Panduan Indeks Harga Saham Bursa Efek Indonesia, Jakarta :PT. Bursa Efek Indonesia,2008

Peter Salim, Kamus Umum Bahasa Indonesia Kontemporer, Jakarta : Modern English, 1991

Rizma Fitri, Korelasi Religiusitas dengan Etos kerja Pegawai Tetap ( studi kasus pegawai di lingkungan IAIN Sunan Ampel), jurnal of Indonesia Islam Community Research Vol IX no. 3 Desember 2007

Roland Robertson ed, Agama dalam Analisa dan Interpretasi Sosiologis penerjemah Achmad Fedyani Saifuddin ,Jakarta: Cv Rajawali 1992

Rusli Karim, Dua Paradigma Pembangunan; Perspektif Islam, Prismma, 1994, XXIII, no. II,

Ruqoiyah Waris Masqood, Harta dalam Islam PanduanAl-Qur’an dan al-hadits dalam mencari dan Membelanjkan Harta dan kekayaan Jakarta: Lintas Pustaka, 2003

Sami al Suwailem, “toward an Objective Measure of Gharar in Exchange,”, journal of Islamic economic Studies, Vol. 7, no.1&2, 1999

Suad Husnan, Dasar-Dasar Teori Portfolio dan Analisis Sekuritas, Yogyakarta :AMP YKPN, 2001

Syamsuddin, Kehidupan Keagamaan dan Etos Kerja Pedagang Madura : Studi Kasus di kodya Yogyakarta , Yogyakarta:P3M IAIN Sunan Kalijaga

Syed Omar Syed Agil, “Rationality in Economic Theory, A Critical Appraisal”, dalam Reading Micro Economics, An Islamic Perspective, Sayyid Taher, dkk (editor), Malaysia: Longman, 1992,

Sonny Keraf dan Robert Haryono Imam, Etika Bisnis : Membangun Citra Bisnis Sebagai Profesi Luhur, Yogyakarta; Kanisius, 1995.

Sofiniyah Ghufron, dkk, Sistem Keuangan dan Investasi Syariah, h. 17-18, Jakarta, Renaisan, 2005

Sofyan S Harahap, Menuju Perumusan Teori Akuntansi Islam, Pustaka Quantum2001

Taufik Abdullah ed, Agama, Etos Kerja dan Perkembangan Ekonomi Jakarta : LP3ES 1986

Tim Pusat pengkajian dan pengembangan Ekonomi Islam (P3EI) UII bekerja sama dengan Bank Indonesia, Ekonomi Islam, Jakarta, 2008

Taqiyuddin An-nabhani, Membangun sistem ekonomi Islam alternatif: perspektif Islam Suarabaya: Risalah Gusti, 1996

Thariqullah Khan & Habib Ahmed, risk Management; an Analysis of issues in Islamic Financial Industry, Jeddah, Islamic Reseacrh and training Institute, IDB, 2001

The Accounting & Auditing Organization for Islamic Institutions (AAOIFI), Sharia Standards, No. 17, Manama, Bahrain, 2003

Undang-Undang Pasar Modal No. 8 Tahun 1995 Tentang Pasar Modal, Pasal.1.

Umer Chapra, The Future of Economic; An Islamic Perspective,Jakarta: SEBI, 2000

Zainal Abidin Ahmad, Dasar-dasar Ekonomi Islam , Jakarta:Bulan Bintang ,1979

Zaki Fuad, Wawasan Ekonomi Islam Tentang Pemenuhan Kebutuhan dan Distribusi Pendapatan, Jakarta : Perpustakaan PPS UIN Jakarta, 2005

Zuber Hasan, Introduction to Microeconomics, An Islamic Prespective, Malaysia Practice Hall, cetakan I, 2006


IMPLEMENTASI SYARIAH DI PASAR MODAL

A.Pendahuluan

Perkembangan perbankan Syariah memberi warna besar pada pengembangan institusi keuangan dan non keuangan, instrumen investasi dan lain-lain. Saat ini telah hadir lembaga seperti asuransi, pegadaian, koperasi, BPR, MLM, instrumen investasi seperti SWBI, IMA, Reksadana, Obligasi dan bahkan SUN (masih dalam proses) yang menggunakan mekanisme syariah.

B. I. . Investasi dalam pandangan Islam
Islam mengedepankan nilai-nilai moral di samping utilitas ekonomi. Bahkan sebelum itu, Islam menjelaskan mengapa produksi harus dilakukan. Menurut ajaran Islam, manusia adalah khalifatullah atau wakil Allah di muka bumi dan berkewajiban untuk memakmurkan bumi dengan jalan beribadah kepada Nya. Dalam QS Al-An’aam (6) ayat 165 Allah berfirman: “Dialah yang mengangkatmu menjadi khalifah di muka bumi, dan meninggikan setengah dari kamu daripada yang lain beberapa derajat, supaya Dia mencobaimu tentang apa-apa yang diberikannya kepadamu………” Pernyataan senada juga terdapat pada QS Yunus (10) ayat 14. Islam juga mengajarkan bahwa sebaik-baik orang adalah orang yang banyak manfaatnya bagi orang lain atau masyarakat. Fungsi beribadah dalam arti luas ini tidak mungkin dilakukan bila seseorang tidak bekerja atau berusaha. Dengan demikian, berinvestasi, bekerja dan berusaha, menempati posisi dan peranan yang sangat penting dalam Islam. Sangatlah sulit untuk membayangkan seseorang yang tidak bekerja dan berusaha, terlepas dari bentuk dan jenis pekerjaannya, dapat menjalankan fungsinya sebagai khalifatullah dan bisa memakmurkan bumi serta bermanfaat bagi masyarakat.

Disampaikan pada seminar “ Upaya Umat membumikan syariah “ diselenggarakan oleh HMPS D3 Perbankan Syariah ,Senin, 26 Maret 2007

Selain produksi, Islam juga memberikan ajaran tentang konsumsi dan investasi Pengertian investasi cukup banyak ragamnya. William F. Sharpe (1990, hal. 1) dalam bukunya Investment menyatakan bahwa investasi berarti pengorbanan nilai saat ini yang pasti, untuk nilai mendatang yang mungkin tidak pasti. Sedangkan Jones (1996, hal. 6) menulis bahwa investasi adalah satu komitmen dana pada satu atau beberapa aset yang akan dipegang selama beberapa waktu mendatang. Selain itu, investasi juga dapat didefinisikan sebagai satu wahana penempatan dana, sehingga dana tersebut terjaga nilainya dari gerusan inflasi, bahkan meningkat dan atau memberikan imbal hasil yang positif (Kertonegoro, 1996, hal. 5).
2.1. Proses Investasi

Transaksi Langsung

Sumber: Kertonegoro (1996,hal 5)

Dalam berinvestasi, Islam tidak membatasi umatnya untuk memilih jenisnya. Akan tetapi Islam memberikan batasan norma yang mesti dipatuhi. Beberapa hal yang tidak diperbolehkan dalam berinvestasi :
A. Riba.
Riba menurut al-Jurjani adalah kelebihan atau tambahan pembayaran tanpa ada ganti atau imbalan, yang disyaratkan bagi salah seorang dari dua orang yang membuat transaksi (akad) (Zuhdi, 1994:102). Riba direpresentasikan dengan compound interest (bunga)
Pengertian senada disampaikan oleh jumhur ulama sepanjang sejarah Islam, dari berbagai mazhahib fiqhiyyah. Di antaranya sebagai berikut (Syafii Antonio, 2001, 38-41):
1. Badr ad-Din al-Ayni, pengarang Umdatul Qari Syarah Shahih al-Bukhari: “Prinsip utama riba adalah penambahan. Menurut syariah, riba berarti penambahan atas harta pokok tanpa adanya transaksi bisnis riil.”
2. Imam Srakhsi dari Mazhab Hanafi: “Riba adalah tambahan yang disyaratkan dalam transaksi bisnis tanpa adanya iwadh (atau padanan) yang dibenarkan syariah atas penambahan tersebut.”
3. Raghib al-Asfahani: “Riba adalah penambahan atas harta pokok”
4. Imam an-Nawawi dari Mazhab Syafi’i: Imam Nawawi menjelaskan bahwa salah satu bentuk riba yang dilarang Al-Qur’an dan As-Sunnah adalah penambahan atas harga pokok karena unsur waktu. Dalam dunia perbankan hal tersebut dikenal dengan bunga kredit sesuai lama waktu pinjaman.
5. Qatadah:“Riba jahiliah adalah seseorang yang menjual barangnya secara tempo hingga waktu tertentu. Apabila datang saat pembayaran dan si pembeli tidak mampu bayar, ia memberikan bayaran tambahan atas penangguhan.”
Syara’ telah melarang riba dengan larangan yang sangat tegas, berapapun jumlahnya, baik sedikit maupun banyak. Berikut ayat-ayat yang melarang riba:
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan riba dengan berlipat ganda dan bertaqwalah kamu kepada Allah supaya kamu mendapat keberuntungan (QS. 3: 130)
“Dan disebabkan mereka memakan riba, padahal sesungguhnya mereka telah melarang dari padanya, dan karena mereka memakan harta orang dengan jalan yang bathil. Kami telah menyediakan untuk orang-orang yang kafir di antara mereka itu siksa yang pedih.” (QS. 4: 161)

B. Maysir
Maysir atau judi menurut Ibrahim Hosen adalah suatu permainan yang mengandung unsur taruhan yang dilakukan secara berhadap-hadapan oleh dua orang atau lebih. Dalam al-Qur’an surat al-Baqarah: 219, disebutkan:
“Mereka bertanya kepadamu tentang khamar dan judi. Katakanlah, “Pada keduanya itu terdapat dosa besar dan beberapa manfaat bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar dari manfaatnya.”
C. Gharar.
Gharar dipahami sebagai transaksi yang tidak jelas. Hadits-hadits berikut dapat dijadikan rujukan untuk pemahaman lebih jauh mengenai Gharar.
“Rasulullah s.a.w melarang jual beli dengan hasah dan penjualan gharar.” (HR. Muslim)
“Dilarang menjual ikan dalam laut, yang seperti itu gharar (HR. Ibn Hambal)
Dari hadits di atas dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan Gharar adalah sesuatu yang mengandung ketidakpastian yang dapat menimbulkan kerugian. Transaksi atau akad semacam ini dilarang dalam Islam.
Selain itu Islam juga memberikan batasan : (Gunawan Yasni, 2003):
• Investasi Syariah mempunyai substansi entitas investasi yang sesuai syariah Islam.
• Investasi Syariah mempunyai cara mentransaksikan substansi entitas investasi yang sesuai dengan syariah Islam.
• Sementara investasi konvensional, dalam kedua hal itu mengacu pada hukum positif dan kelaziman dalam komunitas investasi secara umum.
D. Halal.
Manakala seorang investor muslim hendak memilih satu bentuk investasi tertentu. Ia harus memperhatikan beberapa hal penting, antara lain: ( Kriteria Investasi Islam menurut Fatwa DSN)
• Klasifikasi substansi, antara lain:
 Tidak memproduksi barang haram. Termasuk bukan Lembaga Keuangan Konvensional.
 Rasio utang dengan modal < 30%. Menetapan batasan rasio utang ini bertujuan untuk meminimalisisr gharar dan maysir.
 Pendapatan bunga < 15% dari pendapatan usaha riilnya.
 Rasio kas/aktiva / piutang tidak lebih dari 50 %.
• Cara masuk ke substansi entitas investasi harus transparan.
• Manajemen Aktiva investasi tersebut harus berkualitas
• Investor juga harus memperhatikan perkiraan risk dan return dari investasi tersebut
• Lingkungan investasi harus sesuai dengan aturan yang berlaku.
• Tingkat likuiditasnya harus bagus.

2. Jenis-jenis Instrumen Investasi Syariah
Berdasarkan akad-akad yang telah dijelaskan di atas, para ahli ekonomi Islam kemudian melakukan inovasi untuk mengembangkan produk-produk investasi yang Islami. Jenis-jenis instrumen investasi yang telah dikembangkan di Indonesia dan digunakan sebagai sarana dan wahana investasi perusahaan reksadana syariah, dijelaskan sebagai berikut (Tim IBI, 2001, hal. 277):
A. SWBI dan IMA
Sertifikat Wadiah Bank Indonesia (SWBI) adalah instrumen penitipan jangka pendek bank yang merupakan ekses dari likuiditas. Jangka waktu penitipannya 1 minggu, 2 minggu dan maksimal 1 bulan. Nominal penitipannya minimal sebesar Rp 500 juta dan selebihnya kelipatan Rp 50 juta. Atas penempatan dana tersebut, BI memberi bonus yang mengacu pada tingkat indikasi imbalan IMA di PUAS.
Investasi Mudarabah Antarbank (IMA) merupakan instrumen Pasar Uang Antarbank Syariah (PUAS). Jangka waktu maksimumnya 90 hari. Sertifikat ini diterbitkan oleh Bank Syariah dan Unit Syariah bank konvensional. Untuk sertifikat ini, pengalihan jual hanya boleh dilakukan oleh bank penerbit. Sedangkan bank pembeli tidak boleh mengalihkan kepada pihak berikutnya. Imbalan dibayarkan setiap awal bulan sebesar realisasi tingkat imbalan deposito investasi mudharabah pada bank penerbit.
b. Deposito Mudharabah
Merupakan satu bentuk simpanan di perbankan syariah dengan akad bagi hasil. Bank syariah menetapkan akad mudharabah untuk deposito ini. Dalam hal ini deposan bertindak sebagai shahibul maal dan bank syariah selaku mudharib. Penerapan mudharabah terhadap deposito dikarenakan terdapat kesesuaian di antara keduanya. Misalnya akad mudharabah mensyaratkan adanya tenggang waktu antara penyetoran dan penarikan agar dana itu bisa diputarkan. Tenggang waktu ini merupakan salah satu deposito, bahkan di dalam deposito terdapat pengaturan waktu, seperti 30 hari, 90 hari dan sebagainya.
Pada deposito syariah, ada satu jenis yang pemilik dananya menetapkan syarat-syarat tertentu yang harus dipenuhi oleh pihak bank. Syarat tertentu itu biasanya merupakan arahan investasi yang dibolehkan oleh pemilik dana. Deposito demikian disebut deposito mudharabah muqayyadah.
c. Obligasi Syariah
Berbeda dengan konsep umum obligasi, obligasi syariah bukan merupakan utang berbunga tetap, tetapi lebih merupakan penyertaan dana yang didasarkan pada prinsip bagi hasil. Landasan traksaksinya bukan akad utang piutang melainkan penyertaan. Obligasi sejenis ini lazim dinamakan muqaradhah bond (muqaradhah merupakan nama lain dari mudharabah, ahli Irak sering mengunakan istilah yang pertama sementara kaum Hijaz menggunakan yang kedua).
Dalam bentuknya yang sederhana obligasi syariah diterbitkan oleh sebuah perusahaan sebagai pengelola (mudharib) dan dibeli oleh investor (shahib al maal). Dana yang terhimpun dapat disalurkan untuk pengembangan usaha lama atau pembangunan suatu unit baru yang benar-benar berbeda dari usaha lama. Bentuk alokasi dana yang khusus (specially dedicated) dalam syariah dikenal dengan istilah mudharabah muqayyadah. Atas penyertaannya investor berhak mendapatkan nisbah keuntungan tertentu yang dihitung secara proporsional dan dibayarkan secara periodik.
Dengan melihat penjelasan di atas istilah yang tepat untuk obligasi syariah adalah shahadatu ististmar (investment certificate) atau mudharabah bond. Dengan menamai sertifikat investasi maka kita akan mengesampingkan asosiasi bunga tetap yang melekat pada obligasi biasa. Demikian juga dengan memberikan imbuhan mudharabah sebelum bond akan menjadikan instrumen ini benar-benar profit sharing based dan bukan fixed pre-determined return.
Obligasi syariah bermanfaat sebagai instrumen keuangan/investasi jangka panjang dalam waktu tertentu untuk melaksanakan kegiatan komersial dan dapat saling dipertukarkan antarpihak. Ini bisa terjadi karena syariah bonds bukanlah surat hutang tetapi investasi di pasar modal syariah. Secara natural obligasi syariah mempunyai proses balancing/hedging sendiri antara cost dan income dalam penerbitannya karena returnnya didasarkan pada konsep bagi hasil, bagi kontribusi dan bagi risiko. (Gunawan Yasni, 2003).
Obligasi syariah mampu me-leverage out cost of fund, yang artinya bisa menjadikan biaya dana itu variabel. Dalam konteks obligasi syariah yang akan dikeluarkan pemerintah pada 2004, maka biaya bunga obligasi konvensional pemerintah yang selama ini membebani APBN dapat diminimalkan dan diganti dengan bagi hasil yang menyesuaikan dengan kinerja kegiatan komersialnya. Jika kinerjanya baik bagi hasilnya juga besar dan jika kinerjanya kurang baik, bagi hasilnya juga kecil. Dengan demikian beban APBN menjadi moderat dan tidak berlebihan. Selain dari itu semua, bagi hasil obligasi syariah pemerintah dari waktu ke waktu dapat menjadi salah satu tolok ukur signifikan atas keberhasilan kinerja pemerintah yang berkeadilan.
d. Saham-saham JII
Tidak semua saham yang tercatat di Bursa Efek Jakarta dapat dipakai sebagai instrumen investasi syariah. Alhamdulillah sejak Juli tahun 2000, BEJ telah menyusun Jakarta Islamic Index (JII). Saham-saham yang masuk dalam JII adalah saham-saham dari perusahaan yang dianggap sudah menjalankan bisnis secara syariah. Saham yang masuk JII sudah melewati satu penyaringan ketat. Seleksinya dilihat dari dua segi:
Pertama dilihat dari industrinya, yakni bukan satu perusahaan yang menghasilkan produk-produk yang bertentangan dengan syariah Islam. Dengan alasan itu, saham dari perusahaan yang memproduksi minuman beralkohol, berkaitan dengan perjudian, kegiatan usahanya berbau maksiat, dan lembaga keuangan konvensional tidak bisa masuk dalam JII.
Kedua dilihat dari sisi keuangannya, yakni dengan melihat rasio hutang atas aset, rasio piutang atas aset, rasio interest income atas pendapatan perusahaan. Penilaian saham ini dilakukan setiap enam bulan. Dari 30 jenis saham yang masuk JII tersebut, selama 7 kali proses skrining, tercatat hanya ada 16 saham yang terus menerus masuk dalam indeks syariah itu.
3. Pasar Modal Syariah
Pasar Modal adalah pasar yang mempertemukan pihak-pihak yang memerlukan dana jangka panjang dan mereka yang menyediakan dana tersebut yang biasa disebut dengan Bursa Efek.
Investasi keuangan menurut syari’ah dapat dikaitkan dengan perdagangan atau kegiatan usaha baik berbentuk produk, asset ataupun jasa. Syari’ah memberikan dasaran bahwasannya berinvestasi harus terkait langsung sengan suatu asset atau kegiatan usaha yang menghasilkan manfaat . Berkaitan dengan pasar modal maka investasi yang dapat dilakukan adalah membeli saham perusahaan baik non publik ataupun publik.
Investasi di saham perusahaan publik dapat dilakukan melalui pembelian saham pada pasar perdana mapun pasar sekunder. Skim yang dapat dilakukan melalui skim mudharabah maupun musyarakah.
Investasi yang dapat dilakukan dipasar modal adalah:
A. Pembelian Saham. Saham yang dapat dibeli adalah saham-saham yang sesuai dengan kreteria DSN sebagai mana telah diungkapkan di atas. Adapun kaidah-kaidah syari’ah yang dapat dipenuhi dalam instrumen saham adalah :
a. akad yang digunakan adalah musyarakah/ mudharabah jika ditawarkan secara terbatas
b. Revenue atau hasil yang ditawarkan berupa bagi Hasil bukan Rate atau kupon.
c. Emiten adalah perusahaan halal dan islami menurut kreteria DSN
d. Semua akad pada pasar perdana berbasis transaksi riil (underlying asset jelas) bukan untuk membayar hutang
e. Tidak boleh spekulasi, gharar dan maysir

B. Pembelian Obligasi Pembiayaan usaha syari’ah
Obligasi syariah adalah surat berharga jangka panjang berdasarkan prinsip syariah yang dikeluarkan oleh emitten kepada investor dengan kewajiban memberikan bagi hasil serta membayar kembali dana obligasi pada saat jatuh tempo.
Iwan Pontjowinoto mendefinisiskan Obligasi Syariah adalah suatu kontrak perjanjian tertulis jangka panjang untuk membayar kembali pada waktu tertentu beserta seluruh manfaat secara periodic menurut akad.
Obligasi Syariah berdasarkan Fatwa DSN No.32/DSN-MUI/iX/2002. Menurut M. Al-amin , Instrumen Obligasi Syariah dapat diterbitkan dengan menggunakan prinsip mudharabah, ijarah, musyarakah, slam, istisna tergantung dengan emiten.
Emiten yang telah menerbitkan Obligasi syariah diantaranya adalah :
EMITEN JENIS OBLIGASI NILAI EMISI PERINGKAT INDIKASI RETURN WAKTU PENERBITAN
Indosat Mudharabah 175 M AA+ 15, 75 % 2002
Berlian Laju Tanker Mudharabah 60 m A- 14,75% 2003
Bank Bukopin Sya Mudharabah 45 m BBB ++ 13,75 % 2003
BMI Mudharabah 200 m BBB- 17 % 15-7-2003
Ciliandra Perkasa Mudharabah 60 m BBB 17, 7 0 % 26-9-2003
BSM Mudharabah 200m BBB 13 % 31-10-2003
Perkebunan Nusantara VII Mudharabah 75 m BBB+ 13,87 %
Matahari Putra Prima Ijarah 150 m A+ 13,80 % 6 mei 2004

E. Reksadana Syari’ah
Reksa Dana syariah adalah Reksa Dana yang pengelolaan dan kebijakkan investasinya mengacu pada syariat Islam. Reksa Dana syariah hanya menginvestasikan dananya pada saham-saham atau obligasi perusahaan yang produk dan pengelolaannya tidak bertentangan dengan syariat Islam. Beberapa ketentuan yang disyaratkan oleh Dewan syariah nasional dalam fatwanya adalah :
a. Reksa Dana syariah hanya dapat berinvestasi pada instrumen-instrumen keuangan yang sesuai dengan syariah. Bila di investasikan pada saham adalah melalui penawaran umum dan pembagian deviden yang didasarkan pada tingkat laba usaha. Sedangkan bila ditempatkan pada deposito maka hanya ditempatkan pada deposito bank-bank syariah dan surat utang yang sesuai dengan syariah.
b. Jenis usaha emiten harus sesuai dengan syariah yaitu bebas dari judi, riba, makanan haram dan barang-barang yang merusak moral
c. Reksa Dana Syariah tidak boleh melakukan penawaran palsu, penjualan yang belum dimiliki, insider trading serta berinvestasi pada perusahaan yang tingkat hutangnya lebih besar daripada modal atau Debt to equity rationya lebih besar dari 30%, perusahaan yang tergantung pada pendapatan bunga lebih 15 % dan perusahaan yang jumlah piutangnya 50 % dari nilai pasar saham. Portfolio Saham yang sesuai syariah saat ini direpresentasikan oleh Jakarta Islamic Index (JII) dan Obligasi Mudharabah (Indosat)
Penghasilan investasi yang diterima oleh Reksa Dana Syariah adalah:
a. Dari saham berupa deviden yang merupakan bagi hasil atas keuntungan yang dibagikan dari laba baik dibayarkan tunai mapun dalam bentuk saham
b. Dari obligasi syariah berupa bagi hasil yang diterima secara periodic dari laba emiten
c. Dari surat berharga pasar uang yang sesuai dengan syariah berupa bagi hasil yang diterima oleh issuer
d. Dari deposito syariah berupa bagi hasil yang diterima dari bank-bank syariah.
Manajer Investasi pengelola Reksa Dana Syariah harus tetap menjamin agar produk tetap sejalan dengan prinsip dan kaidah Islam, terhindar dari Riba, Gharar dan Maysir.
Secara formal kelembagaan, pasar modal syariah baru saja diluncurkan pada tanggal 14 Maret 2003, meski aktivitas transaksinya belum ada. Namun upaya ke arah terbentuknya pasar modal syariah sebenarnya sudah cukup lama dilakukan. Misalnya ketika Bursa Efek Jakarta (BEJ) menyusun Jakarta Islamic Index (JII), sejak Juli 2000. Indeks ini mengacu pada 30 saham dari emiten yang kegiatan usahanya tidak bertentangan dengan syariah Islam. Sebanyak 30 saham itu merupakan hasil saringan ketat yang berlangsung dalam beberapa tahap. Dengan adanya JII ini, keyakinan investor untuk mengembangkan investasi secara syariah diharapkan semakin meningkat.
Jauh sebelum itu, reksadana syariah justru telah memulai kegiatannya. Sejak pertengahan 1997 telah tersedia portofolio investasi berbasis syariah yang dikelola oleh PT Danareksa Investment Management (DIM). Instrumen investasi berbasis syariah ini adalah berupa Reksa Dana Saham.
Saat ini di pasar modal Indonesia menurut data akhir tahun 2006 terdapat 17 perusahaan yang menerbitkab obligasi syariah melalui pasar domestik dengan total nilai emisi sebesar Rp. 2.21 triliun yakni 2.23 % dari total nilai emisi obligasi korporasi yang berjumlah rp. 96.13 %. Sementara itu sampai saat ini terdapat 23 Reksa Dana Syariah dengan total NAB (Nilai Aktiva Bersih) pada tanggal 9 Februari 2007 sebesar Rp. 733,8 Miliar atau sekitar 1.31 % dari total NAB seluruh Reksa Dana Rp 56.06 triliiun .
Bila dibandingkan dengan perkembangan industri keuangan syariah secara global, maka perkembangan instrumen investasi pasar modal di Indonesia masih lambat dibandingkan Malaysia. Berdasarkan data yang dirilis oleh International Islamic Financial Market ( IIFM) saat ini mengelola asset sebesat USD 300 Miliar dan diprediksi akan terus tumbuh sebesar 15 % -20 % pertahun selama akhir decade ini. Keadaan ini akan terus tumbuh seiring dengan adanya dana Timur Tengah yang siap diinvestasikan ke dalam instrumen syariah mencapai USD 1, 3 Triliun.
Kesempatan ini mendorong para praktisi syariah terus mempush pemerintah untuk menerbitkan Surat Berharga Syariah Negara (SBSN). Disamping itu terdapat pertimbangan strategis lainnya yakni :
a. Diversifikasi sumber pembiayaan fiskal dalam rangka optimalisasi manajemen portfolio dan risiko utang pemerintah
b. Menciptakan benchmark instrumen keuangan syariah baik pasar modal domestik maupun internasional
c. Mendorong pertumbuhan dan meningkatkan peran pasar keuangan berbasis syariah di Indonesia
Berkaitan dengan Sukuk yang akan digulirkan oleh pemerintah. Maka para praktisi lembaga keuangan dan pasar modal dapat menaruh harapan cerah dengan adanya penambahan instrumen investasi berlandaskan syariah. Yang pada akhirnya dapat memacu pengembangan dan kinerja lembaga keuangan syariah dll. Sehingga syariah lebih dapat diterapkan dalam berbagai sector. Amin.

DAFTAR PUSTAKA

Achsien Iggi H., Investasi Syariah di Pasar Modal: Menggagas Konsep dan Praktek Manajemen Portofolio Syariah. Edisi Pertama. Penerbit Gramedia, Jakarta, 2000.

Anderson, D.R., D,J. Sweeney, T.A. Williams, An Introduction to Manageent Science: Quantitative Approaches to Decision Making, Eight Edition, West Publishing Company, 1994.

Antonio, M. Syafi’i, Bank Syariah: Dari Teori ke Praktik, Gema Insani, Jakarta, 2001.

Asytuti, Rinda, Analisis Perbandingan Kinerja Reksa Dana Syariah dan Reksa Dana Konvensional pada periode 2002-2003, Tesis PSKTTI-UI, Jakarta, 2003.

Bapepam, Panduan Reksa Dana, Bapepam, jakarta, 1997.

, and Capital Market Society, Mengapa Harus Reksa Dana, Bapepam, Jakarta, 1997.

Bashir, B.A., Portfolio Management on Islamic Bank ‘Certainty Model’, Journal of Banking and Finance 7, 1993.

Bodie, Zvi, A. Kane, A.J. Marcus, Investments, Third Edition, Irwin, USA, 1996.

Chapra, M. Umer. Towards Just Monetary System. Limited Editon. Islamic Foundation, United Kingdom, 1995.

Crouhy, Michael, D. Galai, R. Mark. Risk Management, McGraw Hill, Singapore.

Culp, Christopher L., The Risk Management Process: Business Strategy and Tactics, John Wiley & Sons, 2001


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.